Agama

Mengenal Substansi Diri, Shalat, Nabi Muhammad dan Tuhan

68K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
15:59
20 JUL 2016
Dok. dr. Aswin Rose Yusuf
Penulis
Sumber
Asiaone

Bagaimana mengenal adanya SUBSTANSI KAFIR DAN MUKMIN?

Adanya yang kafir dan adanya yang mukmin itu bisa diketahui oleh setiap manusia dimana ada berada, yang tidak membedakan bangsa dan bahasanya;

Bila diketahui, Allah menganugerahkan NIKMAT (DZAT/RASA), 31 ayat dalam surat Ar-Rahman Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i); NIKMAT TUHAN MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN.

Setelah dapat kita merasakan ada yang kafir dan ada yang mukmin; maka sebelum terjadi perbuatan keji dan munkar; MAKA DAPAT DICEGAH Yaitu sebuah kondisi yang disebut BISIKAN SYETAN SEBANGSA JIN DAN MANUSIA.

Maka sebelum terjadi perbuatan keji dan munkar dapat dicegah, bila kita mengetahui bahwa YANG SHOLAT TERSEBUT ADALAH MUKMIN, (BUKAN MANUSIA).

Mukmin itu nama Ruh. "Abdi fil qalbil mu’miniin”, hambaKu dalam hati mereka namanya mukmin, dia tidak laki-laki, tidak perempuan. Yang laki-laki perempuan itu jasmaniahnya.

Siapa SHOLAT?

Yang sholat itu QS(23)1-5: "Qad aflahal mu'minuun. Alladziina hum fii shalaatihim khaasyi'uun. Wal ladziina hum 'anil laghwi mu'ridhuun. Wal ladziina hum liz zakaati faa'iluun. Wal ladziina hum li furuujihim haafizhuun."

Artinya: "Sungguh menang pasti menang ORANG MUKMIN dalam sholat khusyuk dan tawaduk kepada Allah. Dan orang-orang yang berpaling dari perbuatan sia-sia. Dan orang-orang tang mengeluarkan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kehormatannya."

Itulah sebabnya sebelum terjadi perbuatan keji dan mungkar dapat dicegah karena pasti setiap manusia pasti mengetahui dan mendengarkan adanya sifat KEENGKARAN ITU ('ain-nyata).

QS(29)45: "Utlu maa uuhiya ilaika minal kitaabi wa aqimish shalaata innash shalaata tanhaa 'anil fahsyaa-i wal munkari wa la dzikrullaahi akbaru wallaahu ya'lamu maa tashna'uun."

Artinya: "Bacakanlah Hai Muhammad apa-apa yang engkau wahyukan daripada Kitab dan DIRIKANLAH SHOLAT, (sebelum mengerjakan sholat lima waktu), SESUNGGUHNYA SHALAT ITU MENCEGAH DARI PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR, dan sungguh mengingat Allah lebih besar keutamaannya. Dan Allah mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan."

Apa yang mau dicapai?

QS(5)3, "...Al yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu 'alaikum mi'matii wa radhiitu lakumul islaama diinan..."

Artinya: "Pada hari ini AKU SEMPURNAKAN  AGAMA-MU, dan AKU cukupkan  NIKMAT-RASA-ZAT(Tdk ragu-tdk galau ) dan AKU RIDHA ISLAM AGAMA-MU."

Oleh sebab itu menyembah TUHAN Wajib di BAITULLAH, tapi Wajib pula  MENGIKUT RASUL.

Sedangkan substansi sholat itu adalah mukmin; mukmin adalah abdi filqalbil mu'miniin; hambaKu dalam hati mereka namanya mukmin.

Siapa mukmin itu sebenarnya?

Itu nama Ruh. Berasal dari Muhammad SAW; Ana minallah wal mu'minuuna minniiy; Aku daripada Allah, mukmin itu daripada Aku.

Muhammad itu Nur Allah, BUKAN dari Nur Allah; Mukmin itu Nur Muhammad, BUKAN dari Nur Muhammad.

Mukmin itu bersaudara, QS(49)10, Innamal mu'minuuna ikhwatun. Kalau-lah manusia di seluruh dunia ini mengetahui bahwa Ruhnya itu berasal dari satu kejadian; tentu sangat mudah menyelesaikan persoalan-persoalan sebelum terjadinya perbuatan keji dan munkar.

Dengan demikian substansi sholat itu adalah KEBENARAN; yang MUNCUL atau TERBIT DARI RASA BERUPA NUR atau CAHAYA; dia adalah IMAN, dia adalah KITAB; sesungguhnya dia itu adalah kebenaran.

Seperti firman Tuhan QS(2)147: "Alhaqqu mir rabbika fa laa takuunanna minal mumtariin."

Artinya: "Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu."

Bagaimana mendirikan sholat atau kebenaran itu?

WAJIB MENGIKUT RASUL QS(24)56: "Wa aqiimush shalaata wa aatuz zakaata wa athii'ur rasuula la'allakum turhamuun."

Artinya: "dan Dirikanlah sholat, keluarkan zakat, ikut Rasul, supaya kamu mendapat rahmat." Dimana mengikut Rasul? Tentu di Baitullah.

Firman Tuhan QS(2)125: "Wa idz ja'alnal baita matsaabatal linnaasi wa amnaw wat takhidzuu mim maqaami Ibrahiima mushallaw wa' ahidnaa ilaa ibraahiima wa ismaa 'illa an thahiraa baitiya lith thaa-ifiina wal 'aakifiina warrukka'is sujuud."

Artinya: "Dan ingatlah ketika Kami MENJADIKAN RUMAH itu BAITULLAH (BUKAN KA'BAH), untuk pulang pergi manusia, dan tempat yang aman. Dan AMBIL-LAH BAITULLAH itu untuk TEMPAT SHOLAT. Bersihkanlah rumahKu untuk orang yang tawaf, i'tikaf, ruku dan sujud."

QS(22)26: "Wa idz bawwa'naa li Ibrahiima makaanal baiti al laa tusyrik bii syai-aw wa thahhir baitiya lith thaa-ifiina walqaaimiina wa rukka'is sujuud."

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Kami TEMPATKAN IBRAHIM PADA TEMPATNYA DI BAITULLAH, seraya firman Kami, "JANGAN ENGKAU SEKUTUKAN AKU DENGAN YANG LAIN-LAIN, dan SUCIKANLAH RUMAHKU untuk orang-orang yang tawaf, orang-orang yang I'tikaf dan orang-orang yang ruku' dan sujud."

Oleh karena Ruh itu Nur atau Cahaya, untuk menegakkan kebenaran atau sholat tadi; kita diperintah Allah MEMALINGKAN WAJAHNYA KE ARAH MASJIDIL HARAM;

QS(2)149 dan 150: "Wa min haitsu kharajta fa walli wajhaka syathral masjidil haraami wa innahuu lal haqqu mir rabbika wa mallaahu bi ghaafilin 'ammaa ta'maluun. (150) Wa min haitsu kharajta fa walli wajhaka syathral masjidil haraami wa haitsu maa kuntum fa walluu wujuuhakumsyathra huu li-allaa yakuuna lin naasi 'alaikum hujjatun illat ladziina zhalamuu minhum fa laa takhsyauhum wakh syaunii wa li-u timma ni'matii 'alaikum wa la'allakum tahtaduun."

Artinya:

149. Dan dari mana saja engkau keluar maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya itulah kebenaran dari Tuhanmu. Dan Allah tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.

150. Dan dari mana saja engkau ke luar maka hadapkanlah wajahmu (dalam salat) ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arahnya agar orang-orangitu tidak mempunyai alasan membantahmu kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepadaKu, dan agar Aku sempurnakan nikmatKu atas kamu dan supaya kamu mendapat petunjuk.

KEBENARAN itulah MUKMIN; DIA-LAH SHOLAT.

Oleh sebab itulah semua orang dapat merasakan sesuatu "YANG TIDAK BENAR" yang bersumber dari dalam hatinya.

Oleh karena sholat itu wajib mengikut Rasul maka, fungsi atau tuhas kerasulan Muhammad adalah SEBAGAI SAKSI SUPAYA BERTAMBAH KEPERCAYAAN KITA KEPADA ALLAH.

QS(48)8-9: "Innaa arsalnaaka syaahidan wamubasy-syiran wanadziiran. Litu'minuu billahi warasuulihi watu'azziruuhu watuwaqqiruuhu watusabbihuuhu bukratan wa-ashiilaa."

Artinya: "Sesungguhnya, Kami mengutus ENGKAU HAI Muhammad sebagai SAKSI, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, SUPAYA kamu BERIMAN-percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, lagi menguatkanNya, membesarkanNya.

Dan bertasbih kepada-Nya pagi dan petang."

Hadist Bukhari 3532: "Hal tarawna qiblatii haa hunaa fawallaahi maa yakhfa 'alayya khusyuu'akum walaa rukuu'akum innii la araakum min waraa i zhahrii."

Artinya: BERKATA RASULULLAH: "Adakah engkau PERHATIKAN KEMANA KIBLATMU?" Demi Allah TIDAK LEPAS DARI PENGLIHATAN KU, CARA-CARAMU KHUSYUK DAN RUKUK. Sesungguhnya khusyuk dan rukukmu DI BELAKANGKU KU, KU LIHAT (artinya apakah ADA KAMU DI BAITULLAH  APA TIDAK)."

Muslim 2354; Imam Malik Al-Muwattaq 1844: "Hal tarawna qiblatii haa hunaa fawallaahi maa yakhfa 'alayya sujuudakum walaa rukuu'akum innii la araakum min waraa i zhahrii."

Artinya: " BERKATA RASULULLAH: "Adakah engkau PERHATIKAN KEMANA KIBLATMU?" Demi Allah TIDAK LEPAS DARI PENGLIHATANKu CARA-CARAMU SUJUD DAN RUKUK. Sesungguhnya sujud dan rukukmu DI BELAKANGKU- KU LIHAT (APAKAH ADA KAMU DI BAITULLAH APA TIDAK)."

Secara otomatis dia mengenal Muhammad Rasulullah SAW, BUKAN LAGI SEBAGAI NABI; akan tetapi SEBAGAI MUHAMMAD RASULULLAH SAW yang di salawat oleh Allah dan malaikat, QS(33)56: "Innallaaha wa malaa-ikatahuu yushalluuna 'alan nabiyyi yaa ayyuhal ladziina aamanu shallu 'alaihi wa sallimuu tasliimaa."

Artinya: "Sesungguhnya ALLAH DAN MALAIKAT BERSALAWAT ATAS NABI (DALAM DIMENSI NUURUN 'ALAN NUUR). Hai ORANG BERIMAN BERSALAWATLAH KEPADA MUHAMMAD, dan berilah salam dengan sungguh-sungguh."

Batas antara islam dengan kafir adalah Sholat; BAINA AL-RAJULI WA BAINA AL-SYIRKI WA AL-KUFRI TARKI AL-SHALAH. (HR (1) Anas ibn Malik (2) Jabir ibn Abdullah).

Bagaimana hukumnya, bila sholat itu tidak di Baitullah pada hakekatnya?

Firman Tuhan QS(8)35: "Wa ma kaana shalaatuhum 'indal baiti illa mukaa-aw wa tashdiyatan fa dzuuqul 'adzaaba bi maa kuntum takfuruun."

Artinya: "DAN TIDAKLAH SHALAT MEREKA ITU DI BAITULLAH PADA HAKEKATNYA, LAIN TIDAK HANYA SEBAGAI BERSIUL-SIUL DAN BERTEPUK TANGAN ATAU BERMAIN-MAIN SAJA; rasai siksa oleh krn mereka itu KAFIR."

Terbaru
Agama