Agama

Ingin menjadi Allah

6.5K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
05:05
03 MAR 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI - Suatu hari ketika masih kanak-kanak, bersama teman-teman, saya sedang serius berbagi kisah. Selesai saling bercerita pelbagai macam, topik pun berganti. Topik selanjutnya kira-kira "Kita Mau Jadi Apa Kelak?"

Bahasan di atas jelas lebih seru dari sebelumnya, yang lebih banyak dibumbui fantasi-fantasi khas anak-anak meskipun berangkat dari kisah nyata.

Di antara kami, ada yang mau menjadi polisi biar bisa nembak penjahat; menjadi TKI biar kaya—di kampung kami banyak TKI yang berhasil membangun rumah-rumah mewah; hingga ada yang ingin memiliki banyak istri. "Yeee... ," balas teman-teman ketika impian tersebut secara terus terang mengemuka.

Lantas, seorang teman yangg seakan ingin mengungguli yang lain mengeluarkan kata-kata pamungkas,

"Udah, aku ingin jadi Allah! Hayoo... Siapa yang ngalahin!?"

Sejak kecil kita diajarkan bahwa Allah Mahakuasa, mampu melakukan apa pun dengan kata kun ‘jadilah’. Atas kehendakNya semuanya pasti terjadi.

Kiranya karena mimpi tentang kekuasaan itulah, teman tersebut ingin menjadi Allah. Jelas bahwa tidak ada kenikmatan di dunia ini melebihi kekuasaan. Setidaknya kita dapat mengacu ke ucapan revolusioner komunis Cina, Mao Zhe Dong (1893-1976), "Seks itu nikmat, tapi kekuasaan jauh lebih nikmat lagi."

Kekuasaan jika diperhatikan secara saksama memang sangat lekat dengan anak-anak. Lihatlah bagaimana mereka sejak bayi mengendalikan orang tua untuk memenuhi apa yang diinginkannya. Sejak awal kelahiran, mereka tahu bagaimana cara mengontrol orang tuanya, terutama dengan merajuk dan menangis. Bahkan, ketika masih janin, anak manusia seolah bisa mengendalikan ibunya, misalnya dengan mengidam.

Bahasa tubuh penuh kuasa anak-anak juga sangat jelas, bagaimana rentangan tangan dan terbukanya kaki mereka saat tidur. Dengan mudahnya mereka memalingkan muka ketika tidak menyukai sesuatu, plus cepat marah jika ada yang membuatnya tidak nyaman. Ini semua adalah cara mereka mengendalikan situasi, semua ingin dibuat tunduk atas keinginannnya.

Jadi, tidak disangsikan lagi, orang dewasa yang terlalu haus dengan kekuasaan adalah mereka yang jiwanya disfungsi, yang bisa kita katakan sebagai orang dewasa yang kekanak-kanakan. Spesies seperti ini rela mengorbankan apa pun demi hasrat ingin berkuasa: dengan menjilat sambil merendahkan harga diri hingga mengorbankan apa yang diyakini nuraninya sebagai kebenaran.

Kekuasaan yang diperebutkan orang tentu tidak sebatas di jagat politik, tetapi di segala bidang kehidupan; Di mana ada struktur, di situ selalu ada yang ingin berkuasa, tak terkecuali di rumah tangga.

Bagi manusia normal, hasrat terhadap kekuasaan pasti berusaha dikendalikan. Sebab, jika dibiarkan buas, bukan tidak mungkin dia akan memposisikan diri laksana Tuhan, dalam arti berkuasa secara absolut: apa yang dikatakannya harus dijadikan firman dan apa yang tidak disukainya harus dinilai sebagai keharaman bagi yang lain.

Orang yang tidak bisa melepaskan hasrat berkuasa mentalitasnya pasti persis anak-anak: mudah merajuk, serakah dengan perhatian dan puji-puji, serta tidak kenal aturan (sama seperti batita). Menjengkelkan, sayangnya orang-orang yang berhasrat ingin berkuasa secara absolut tersebut ternyata bertebaran di mana-mana.

KATA KUNCI : , , , ,
Terbaru
Agama