Agama

Romansa Ramadhan

3K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
10:59
29 MEI 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hardiansyah
Sumber
Rimanews

Ketika sedang mengayak pasir sambil memilah-milah kerikil, Qais si majnun ditanya oleh seseorang,

“Hai Majnun, apa yang kau lakukan?”

“Mencari Laila”.

“Laila tak akan pernah kau dapati di situ, hai Qais al-Musawwa!”

“Kucari dia di mana pun!” Jawab si Majnun dengan mantap.

Kutipan dari cerita Laila dan Majnun di atas mengisyaratkan bahwa begitu cinta melekat, kita tak akan peduli lagi kata orang.  Ketika yang dicinta tidak hadir di depan, kerinduan begitu menyiksa; dan ketika ia ada di pelupuk mata maka rasa sakit takut berpisah segera mendera.  Lantas, apabila dia pergi, sang pecinta akan mencari ke setiap sudut dunia. 

Akan tetapi, terkadang cinta manusia mudah lekang seiring memburuknya paras rupa dan menuanya usia atau, bahkan, secara mendadak lenyap jika harta menguap, pangkat dan jabatan tak lagi dalam rengkuhan. Yang seperti ini sebenarnya bukan cinta tetapi nafsu yang menyaru.  Memang, nafsu sering menyamar, mengatasnamakan cinta; dan, orang pun sering terkecoh, sulit membedakannya. Cinta ada jika yang dicinta berada, ia hadir jika sang pecinta kaya raya.  Oleh karena itu, apa yang dimaksud dengan cinta oleh manusia sering hanya bersifat semu, bukan cinta sebenarnya.  Maka sangat aneh jika orang menggebu mengejar cinta semacam ini.

Sebaliknya, cinta Ilahi benar-benar berbeda.  Allah akan menerima setiap pecinta-Nya, menawarkan sekaligus menggelar wahana keakraban juga menyiapkan kerinduan.  Jika sang  hamba mendekat, Ia melekat; andai hamba butuh, Dia cukupkan tanpa diminta; sekiranya hamba didera ketakutan dan kecemasan, Ia hadir sebagai al-Basyir ‘Mahapenggembira’; bila hamba tersuruk dan sengsara, Ia menghampiri sebagai al-Nashir ‘Sang Mahapenolong’.

Cinta Ilahiat sudah disiapkan dan jalannya pun sudah dihamparkan. Jika kita mau menyusuri jalan menuju lautan cinta Sang Mahakasih, akan tersedia sambutan penerimaan, tak peduli warna, rupa maupun kasta,  tinggal kita mau menempuh jalan itu atau justru sebaliknya, menjauh dan mengangapnya sebagai dongeng belaka.  Ia menyuguhkan hakikat cinta, bukan warna atau kulit luar semata. 

Jika di masyarakat kita mengenal bulan Dzulhijah atau mongso Besar, kata orang Jawa,  sebagai bulan yang baik untuk melangsungkan acara pernikahan, Ramadhan adalah bulan rahmah ‘cinta’.  Karena, di bulan itu sang Rahim ‘Mahapengasih’ sedang membuka pintu rahmat lebar-lebar dan mengkali-lipatkan pahala. Ramadhan juga disebut sebagai bulan maghfirah ‘kemaafan’, karena cinta tak akan bertahan tanpa pengertian dan pintu maaf.  Ia juga bulan barakah ‘berkah’, karena tanpa keberkahan cinta akan terasa hampa. 

Apabila orang ramai melamar dan meminang pada bulan Dzulhijjah, ini saatnya kita “melamar” menjadi “mahram” dalam keluarga “Ilahiat”.  Bagi yang sudah meraih jalan itu, maka ini adalah  kala paling pas untuk “bulan madu”.  Jika orang ingin mencari momentum untuk bertolak, Ramadhan adalah titik tolak yang luar biasa baik untuk melangkah lebih dekat dengan Sang Kekasih.

Bulan Ramadhan menawarkan kemesraan lailat al-qadr (malam keputusan).  Karena, pada malam itu Allah memutuskan semua perkara; ajal, kelahiran, rizki dan musibah di tahun berikutnya (QS 44:4). Ramadhan disebut juga “Malam Kemuliaan”, karena di bulan ini Dia pertama kali mewartakan firman, yang kemudian dihimpun dalam mushaf sakral yang terkenal dengan nama Alquran.  Tidak ada karya yang lebih indah dan bermakna ketimbang Kitab Suci ini.  Alquran bertutur secara fasih dan menyentuh dengan untaian kata padu dan merdu.  Dengan Alquran, yang buta melihat; yang sesat menemukan jalan; yang putus asa bersemangat; yang lalai ingat; dan jiwa yang dahaga akan menemukan telagaNya. 

Maka, menyelami kembali samudera makna Kitab ini ke dalam hati di bulan suci kerap menjadi primadona para pengabdi.  Khusus bagi para pecinta, Alquran sudah mengurat, menjadi bagian yang tak mungkin lagi terlupa.  Mereka menyapa dan berdialog, salah satunya, dengan media ini.  

Malam Qadr adalah sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan (QS 97:3).  Artinya, jika kita mengabdi dengan ikhlas pada sepanjang malam tersebut maka akan dianggap berdurasi lebih daripada seribu bulan. Menurut sebagian ulama, pada zaman Nabi Muhammad SAW. bilangan satuan angka terbesar barulah ribuan, belum ada angka jutaan apalagi milyar atau trilyun.  Maksudnya, bisa jadi perbandingan malam ini dibanding dengan malam-malam lain adalah lebih dari sekadar seribu bulan.  Bilangan seribu tadi hanyalah metafora untuk menyatakan angka maksimal, dalam konteks Alquran ketika diturunkan. Oleh karena itu, kita tidak perlu terjebak dan terpaku pada kalkulasi angka-angka.  Yang terpenting adalah keistimewaan di salah satu malam Ramadhan tidak tertandingi oleh kala manapun.  Dan, jangan sampai malam itu kita lewatkan dengan sia-sia.

Al-Qadr hadir pada malam hari karena pada waktu malam fungsi nurani lebih menguat ketimbang di siang hari.  Hanya ada “malam pertama“ untuk relasi fitrah antar manusia yang dibingkai dalam acara pernikahan, bukan “siang pertama.”  Maka, relasi vertikal antara hamba dan Pencipta tidak jauh berbeda, akan lebih masyuk di malam hari.  Suasana malam memberi ruang lebih bagi hati untuk memainkan perannya.  Kaitannya dengan iman, hati sering berkolokasi, seperti firman-Nya, “…dan dia datang dengan hati yang bertaubat.” (QS.50:33).  Nuansa ketenangan, kesejukan dan kedamaian malam akan menghadirkan halusnya perasaaan.   

Para pecinta selalu mengharap supaya setiap bulan adalah Ramadhan.  Dan, setiap malam adalah lailat al-qadr.  Pada malam-malam di bulan itu seorang pecinta tidak akan rela kehilangan sedetik pun tanpa tiwikrama, dengan mengungkapkan puji dan kerinduan kepada yang tercinta.  Mengingat-Nya di malam bulan itu akan terasa lebih sejuk, damai dan menentramkan.  Hal ini karena atmosfir Ramadhan benar-benar telah mempengaruhi nurani. 

Ramadhan melindungi setiap anasir demonik yang mencoba  menerpa dan merasuk untuk merusak hati orang-orang yang percaya bahwa Tuhan begitu Pengasih, begitu Penyayang.  Iblis dan balanya tak akan berhasil karena dia—dengan segala sifat benci dan dengki—hanya diutus untuk orang-orang yang lalai, lupa dan mangkir dari kebenaran.

Tak tahukah kamu bahwa Kami telah mengirim para setan kepada orang-orang yang ingkar supaya menyemangati mereka untuk berbuat jahat” (QS.19: 83). 

Ramadhan tidak hanya mempererat hubungan vertikal antara makhluk dengan Khalik tetapi juga relasi sosial, antar sesama makhluk.  Nilai menahan lapar adalah sarana bagi mereka yang tergolong spesies berkecukupan supaya “melek kemelaratan,” sehingga mau berkasih dan berbagi rizki kepada yang kekurangan.  Sebaik-baik sedekah adalah di bulan suci Ramadhan, begitu sabda Nabi SAW yang terkenal.  

Nilai kesederhanaan juga harus menjadi bagian dari Ramadhan.  Puasa adalah menahan diri, tidak hanya anti terhadap hal-hal yang terlarang tapi juga membatasi yang mubah/dibolehkan. Ramadhan juga harus kita disain menjadi berkah secara sosial, tempat semua lapisan masyarakat bisa menganggapnya sebagai anugerah dengan meratanya rizki, lewat sedekah, infak, zakat dan kemampuan daya beli. Pasalnya, kemesraan individual antara hamba dengan Pencipta harus disertai dengan keintiman lintas personal. Nabi SAW ketika Ramadhan memberi laksana angin yang bertiup tanpa henti dan mengisi waktu dengan ibadah.  Romansa dua arah ini harus menjadi karakter Ramadhan untuk selanjutnya dipertahankan sampai Ramadhan tahun depan, begitu seterusnya. Wallahu a’lam

KATA KUNCI : , ,
Agama