Agama

Orang sukses pasti mudik

10.2K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
07:00
22 JUN 2017
Penulis
Dhuha Hardiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Salah satu tradisi yang paling disorot saat Idul Fitri adalah mudik atau balik kampung. Apabila tinggal di kampung, Anda akan melihat saat Idul Fitri di depan rumah orang-orang yang keluarganya tinggal di luar kota akan berjejer mobil aneka merek.

Jika tidak ada mobil, minimal rumah orang yang memiliki keluarga  di rantau orang akan lebih meriah dengan jajanan dan acara pesta keluarga.

Apabila ada orang yang merantau tetapi belum juga mudik, biasanya karena dia belum sukses: tidak mempunyai cukup bekal untuk mudik atau malu karena belum memiliki apa-apa untuk bisa dilihat oleh orang sekampung. Akan tetapi, ada juga mereka yang memiliki cukup uang tapi pelit mengeluarkannya untuk silaturahim dengan kerabat di kampung; atau, dia memiliki dendam kepada orang-orang kampung karena dulu waktu miskin kerap disia-siakan.

Situasi ini menjadi salah satu tanda bahwa orang sukses (minimal secara material) pasti punya kampung: mulai dari presiden, menteri, hingga tukang dan pedagang buah di pinggir jalan di kota-kota besar didominasi orang-orang yang lahir dan besar di kampung.

Namun, bukan berarti orang yang lahir dan besar di kota tidak bisa sukses. Yang penulis ingin sampaikan adalah apabila ingin sukses, bukalah mata, dan langkahkan kaki untuk melihat dunia luar. Jangan terkungkung oleh batas-batas teritorial, apalagi hidup hanya dibatasi tugu pembatas kampung.

Jaminan rizki untuk para perantau

Allah menjamin rizki kepada semua makhluk-Nya. Ini adalah bukti Allah yang Mahakasih, al-Rahman. Namun, Dia tak menjamin rizki yang berlimpah kepada semua hamba.

Rizki yang berlimpah itu hanya dijanjikan Allah kepada orang-orang tertentu, terutama kepada siapa yang mau hijrah, alias merantau. Ini merupakan janji Sang Penguasa dan Pemilik rizki. Perhatikan firman-Nya ini, “Dan siapa yang hijrah di jalan Allah, dia akan menemukan di bumi ini banyak tempat (untuk menetap) dan rezeki yang melimpah,” (QS. Annisa [4]: 100).

Banyak sekali contoh keberhasilan yang bisa diraih setelah hijrah ‘pindah atau migrasi’. Kita bisa berkaca pada sejumlah orang kaya di Indonesia. Siapa di antara mereka yang tak berhijrah dari kampung halamannya? Siapa orang-orang besar dari kalangan ilmuwan yang tak hijrah? Ilmu juga bagian dari rizki.

Sejumlah orang Arab dan India yang di negaranya biasa-biasa saja, dapat menjadi konglomerat di Inggris dan Perancis, demikian juga orang-orang dari Cina di Indonesia. Lihatlah para transmigran dari Jawa yang ada di Lampung, Bengkulu atau Sulawesi. Kehidupan mereka jauh lebih baik dari daerah asalnya setelah beberapa tahun hijrah. Sebaliknya, sejumlah orang dari pulau lain yang hijrah ke Jawa banyak yang menjadi konglomerat. Padahal, sebelumnya, mereka hanyalah orang kaya biasa di kampungnya.

Begitulah, Tuhan menjanjikan bahwa orang yang berpindah demi kebenaran akan mendapatkan kemudahan yang banyak, keluasan rizki dan kebebasan berkreasi.

Imam Syafi’i (767-820) pernah berkata, “Pergilah, maka kamu akan mendapatkan ganti dari yang kamu tinggalkan. Lihatlah kayu yang wangi itu [cendana], di tempatnya sendiri (di Nusantara) cuma sebangsa kayu bakar saja.”

Maksudnya, banyak orang yang mungkin tidak berharga kalau masih berada di tempatnya sendiri; dia akan berharga kalau pindah ke tempat lain. Banyak orang yang bisa membuat kreativitas dan karya-karya besar setelah mereka pindah. Sebaliknya, jarang sekali orang yang bisa menjadi besar di tempatnya sendiri, karena terkekang oleh stigma dari masyarakatnya.

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
Agama