Agama

Menjadikan Idul Fitri sebagai hari raya setiap orang

9.4K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
09:01
25 JUN 2017
Penulis
Dhuha Hardiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Berakhirnya puasa Ramadhan disambut gembira oleh umat Islam dengan merayakan Idul Fitri, sebuah ritual dan pesta yang sudah menjadi tradisi umat-umat terdahulu dari berbagai bangsa. Dikisahkan bahwa puasa dan lebaran bermula sejak Nabi Adam, yang kala terusir dari surga lantas berpuasa demi menghiba pertobatan.

Di akhir beberapa hari puasa, Nabi Adam lalu merayakannya dengan sukacita karena merasa Allah tidak menurunkan azab akibat termakan bujuk rayu iblis memakan buah terlarang, sekaligus yakin tobatnya diterima.

Lebaran yang kita rayakan kali ini setidaknya kita maknai seperti itu: kita yakin bahwa amalan-amalan selama bulan Ramadhan diterima Allah. Kita pun bersuka cita karena telah sukses menghiasi Ramadhan dengan ibadah-ibadah yang dituntunkan oleh syariat.

Akan tetapi, sukacita tersebut terkadang digeser kepada kemeriahan dengan simbol-simbol material. Akhirnya, ada sebagian kelompok yang gagal ceria karena tak mampu memenuhi kebutuhan materi yang menjadi standar sebuah pesta: baju baru, aneka makanan lezat, dekorasi rumah dan asesoris lebaran lainnnya.

Bukan soal benar dan salah, tetapi kita sebut saja beda level. Level pertama ditempati orang-orang tertentu yang sudah mapan secara spiritual, sedangkan level kedua dihuni orang kebanyakan.

Sukacita pada level pertama dapat dirayakan oleh semua orang, tetapi tidak hari raya pada level kedua. Perayaan berabasis material hanya dapat dirayakan oleh mereka yang mempunyai piranti untuk mengakses pernak-pernik sebuah pesta, sementara mereka yang dhuafa hanya mampu menjadi penonton sambil sesekali gigit jari ingin tampil tetapi apa daya kemampuan tak ada.

Supaya Idul Fitri dapat menjadi hari raya bersama, terutama pada level kedua, keceriaan mereka patut kita perhatikan. Jangan sampai keceriaan kita menenggelamkan canda tawa mereka dan keluarganya. Oleh karena itu, agama memerintahkan zakat fitrah, yang diberikan paling lambat sebelum shalat Ied, supaya semua orang bisa bersuka cita.

Bekas Ramadhan di Hari Fitri

Salah satu disain Ramadhan adalah untuk meruntuhkan kebakhilan. Oleh karena itu, di Hari Raya, seharusnya kedermawanan sudah paten. Apabila kedermawanan seseorang mendadak berhenti di Hari Fitri, dia kemungkinan gagal menghayati makna sosial puasa.

Ada sebuah kutipan menarik dari Nabi Muhammad (SAW), “Allah selalu menolong hamba selama dia menolong saudaranya,” (HR. Muslim).

Hadits di atas adalah anjuran tentang kedermawanan, yang dalam bahasa modern kerap disebut filantropi, dari kata dalam bahasa Yunani philein ‘cinta’, dan anthropos ‘manusia’. Kedermawanan, sedekah atau filantropi adalah ragam istilah yang muaranya adalah kecintaan kepada sesama. Apa pun istilahnya, jika diniatkan sebagai upaya membantu, itu adalah keutamaan.

Terutama di Hari Lebaran, membuat anak-anak ceria, janda-janda miskin berbunga dan para manula yang melarat berbahagia adalah sebuah bukti bahwa di antara Muslim adalah saudara. Idul Fitri yang salah satu artinya adalah ‘kembali berbuka/makan’ jangan sampai hanya bisa dinikmati oleh mereka yang beruntung secara material, tetapi seharusnya bisa dirayakan oleh semua orang yang ingin merayakannya. 

KATA KUNCI : , ,
Terbaru
Agama