Pendidikan

3 ucapan orang tua yang tampak baik padahal beracun

6.6K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
07:00
31 JAN 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Di antara ketimpangan dalam pendidikan keluarga di masyarakat Indonesia adalah minimnya penyadaran tentang kewajiban orang tua kepada anak. Yang lebih sering mengemuka adalah kewajiban anak kepada orang tua; bahkan, tak sedikit anak yang buta akan hak-hak yang harus dia dapatkan dari orang tua.

Maka, jika Anda pemerhati masalah ini, tidak heran jika banyak ungkapan-ungkapan dari orang tua yang lazim diucapkan untuk anaknya, yang mereka kira baik, padahal beracun alias berbahaya bagi mental anak. Di antara tiga ungkapan itu adalah:

1. Nanti tumbuh jadi kebanggaan orang tua, ya...

Kalimat di atas lazim diucapkan saat kelahiran anak, ulang tahun, atau saat pertemuan dengan kuluarga atau acara lain, baik secara lisan maupun lewat media sosial. Kalimat ini secara sekilas tampak normal. Akan tetapi, jika dicermati, ujaran tersebut hanya membuktikan bahwa orang tua buta dengan fungsinya.

Tidak ada anak yang meminta orang tuanya untuk dilahirkan. Oleh karena itu, atas dasar apa dia harus dituntut membuat orang tuanya bangga—kebanggaan yang berdasar pada standard mereka.

Orang tua yang meresa bahwa anak yang dilahirkan dan dirawatnya harus melengkapi kebanggaan-kebanggaan yang dimpi-impikannya akan rawan memperlakukan anak seperti robot, dikendalikan mulai dari dia bangun, berpakaian, memilih sekolah hingga memilih kegiatan.

Tiap-tiap orang terlahir dengan bakat yang unik. Oleh karena itu, standard kebanggaan sangat mungkin berbeda antara satu dengan yang lain. Jika disamakan, akan tertutup ruang untuk diskusi.

Anak yang menjadi tumbal keinginan orang tua akan membawa akumulasi luka karena harus selalu memuaskan keinginan orang lain (dalam hal ini orang tua). Diri yang tak pernah terpuaskan akan mencari pengganti kelak ketika dia memperoleh kesempatan, atau selamanya dia tidak pernah tahu apa yang diinginkan.

Anak yang tumbuh dalam kontrol untuk kebanggaan orang tuanya akan berpotensi menjadi diktator (dalam hubungan apa pun: keluarganya kelak, organisasi bisnis, politik dll), petarung tanpa belas kasih, oportunis, mengalami kegalauan identitas, bermasalah menjalin keintiman, narsis, depresi, tingkat kecemasan yang tinggi, hingga kecanduan.

Ketika lahir, sampai anak mandiri, ungkapan yang paling pantas adalah pernyataan bahwa orang tua mencintai anak apa adanya, berjanji untuk menjaga dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, berbahagia dengan jenis kelamin yang dimiliki anak, dan menegaskan bahwa kehadiran sang buah hati penting dan sangat dinantikan.

Jika baru lahir yang diucapkan adalah “nanti jadi menteri, ya” (ucapan sejenis di atas), anak akan membawa beban yang tidak seharusnya dia tanggung. Kebanggaan orang tua adalah tanggung jawab orang tua itu sendiri, mengapa harus ditimpakan ke anak yang dia juga memiliki cita-cita dan keinginannya sendiri?

Terbaru
Pendidikan