Pendidikan

Membuat kesendirian indah dan bahagia

3.7K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:26
03 FEB 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Banyak orang memuja kebersamaan sebagai sesuatu yang indah dan menyenangkan: pesta, konser, tamasya dan sederet aktivitas bersama lainnya. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang tercekam ketakutan ketika sendiri, termasuk berstatus lajang.

Padahal, dalam laku spiritual pada hampir semua agama, ada tradisi menyendiri; yang disebut semedi, uzlah, tapa dan sejenisnya. Orang-orang ini menghindar dari keramaian selama beberapa waktu, bahkan ada yang melanjutkannya dengan sengaja tak ingin dikenali oleh orang lain, dalam arti tetap hidup bermasyarakat tapi menghindar dari unjuk diri apalagi mendambakan ketenaran.

Dalam sebuah wawancara di stasiun TV dengan Dr. Ruth K. Westheimer, terapis psikologi John Bradshaw (1933-2016) menyebut harga diri ‘self esteem’ sebagai cara kita menilai diri sendiri, yang dibuktikan dengan kemampuan kita untuk merasa baik-baik saja ketika dalam keadaan sendiri. Artinya, kita bebas dari ketergantungan: dengan apa pun dan siapa pun.

Dengan cara ini, kondisi kita saat sendirian dapat menjadi tolok ukur sejauh mana kita terlepas dari keterikatan. Agaknya, hal ini yang menjadi tujuan para pelaku spiritual dengan pengasingan diri, yakni untuk melepaskan dari belenggu keterikatan dan kebergantungan ‘co-dependency’, supaya lebih bisa fokus mendengarkan kata hati atau nurani ‘inner-self’.

Omong kosong jika ada orang mengaku bangga sudah menjadi diri sendiri tetapi di saat yang sama masih memuja ketenaran dan takut dengan kesendirian. Pasalnya, semakin tenar seseorang, semakin rawan dia bergantung kepada persepsi atau opini orang terhadap dirinya.

Bahagia dengan kesendiran adalah dengan menjadikan diri sebagai teman, yang berhak kita cintai dan kasihi. Menggantungkan kebahagiaan kepada lain berarti kita menyerahkan tanggung jawab kepada orang yang tidak memiliki kewajiban. Kita lebih berhak membahagiakan diri sebelum membuat orang lain bahagia.

Bukti bahwa kita dapat menjadikan diri sendiri sebagai teman adalah swawicara ‘self talk’. Setiap orang melakukan swawicara dengan produksi rata-rata 150-300 kata per menit, atau hampir 50.000 per hari. Bandingkan data ini dengan penelitian dari University of Arizona AS yang menyebut rata-rata orang berbicara dengan “hanya” 16.000 kata per hari.

Swawicara adalah ketika pikiran kita dalam keadaan sadar menilai sesuatu. Ada seorang pemuda yang tampan lewat di hadapan Anda, lalu di dalam hati Anda bilang, “Ih, tampan sekali tuh bocah.” Inilah yang dimaksud dengan swawicara, bukan ngoceh sendiri seperti orang kurang akal.

Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tidak bahagia dengan kesendirian. Hal ini bukan berarti mengajak orang untuk tidak mempedulikan orang lain, tetapi lebih kepada bagaimana menjadi diri sendiri seutuhnya—dibuktikan dengan hilangnya kecemasan kala sendirian.

Kebahagiaan orang yang mengidap kebergantungan akan semu dan sulit terpuaskan. Orang ini akan mengaku bahagia berkumpul dengan geng ini; esok kecewa lalu mencari kelompok lain, dan seterusnya—karena kebahagiaannya tidak berasal dari dalam diri sendiri, jadi terasa hampa dan tak pernah terpuaskan.

Orang yang menjadi diri sendiri akan lebih mudah bahagia, lalu membahagiakan orang lain—setelah dia sudah selesai dengan dirinya. Anda tentu tak akan berpikir ada orang miskin yang mampu membuat kaya orang lain, bukan?! Hanya orang yang sudah kaya yang paling memungkinkan untuk membagi kekayaannya sekaligus membuat kaya orang lain.

Terbaru
Pendidikan