Pendidikan

Cacat cara pandang dalam dramatisasi kesuksesan

4.2K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
07:00
04 FEB 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Ketika dibilang sudah sukses, tak sedikit orang yang kemudian mendramatisasi masa lalunya yang penuh kesusahan: miskin, dikucilkan, jelek, bodoh, tak lulus sekolah dan sejenisnya. Di bumbui efek sinetron seperti ini, para pemirsa, pembaca, pendengar dan penonton menjadi semakin terpukau.

Maksud hati, katanya, untuk memotivasi orang orang-orang yang masih melarat supaya bisa sukses seperti dirinya. Akan tetapi, mari kita lihat fenomena menceritakan kesuksesan model sinetron tersebut dari perspektif yang sehat.

Untuk memulainya, terlebih dulu kita diskusikan tentang makna kesuksesan. Kesuksesan adalah saat orang mencapai target yang sudah direncanakan. Jika seorang mahasiswa menargetkan lulus di semester VIII, dia dinilai sukses sebagai pelajar jika lulus tepat di tahun keempat. Apabila dia ternyata lulus di semester VII, dia kita sebut bintang, karena capaiannya melampaui target. Dia disebut gagal ketika semester sembilan baru lulus, apalagi lebih atau malah DO gara-gara skripsi tak selesai.

Jika mahasiswa tersebut belum memiliki pekerjaan, dia tidak bisa dibilang gagal hanya karena ada temannya yang sudah bekerja sebelum lulus, karena bekerja bukan menjadi targetnya. Jadi, kesuksesan tidak bisa dipukul rata antara satu orang dengan lainnya karena, rencana hidup tiap-tiap orang berbeda. Kesuksesan harus dibuat gugus, di bidang apa seseorang sukses.

Kesuksesan pun tidak dapat distandardkan dengan capaian material atau melimpahnya kepemilikan properti, meskipun cara ini lebih mudah diukur dan orang sering gunakan karena kasat mata. Suksesnya seorang guru tidak diukur dari banyaknya aset yang dia punya tetapi sejauh mana murid-muridnya menjadi pribadi yang sesuai dengan lajur yang digariskan dalam pendidikan. Guru tidak bisa dibilang gagal hanya karena lebih miskin secara ekonomi dari temannya yang seorang pengusaha.

Selanjutnya, mengungkit kemelaratan di masa lampu di saat memotivasi orang hanya akan membuat pikiran mereka bercabang, yang memungkinkan mereka mengalami berbagai cacat penalaran. Pertama, mereka akan kehilangan fokus kepada bagaimana cara sukses karena lebih terpesona dengan cerita kemelaratan—kesusahan yang didramatisir selalu menarik untuk ditangisi, karena dianggap memiliki hati yang empatik.

Mengetahui bagaimana supaya sukses jelas lebih penting daripada terbawa perasaan oleh cerita tragedi orang lain. Kesuksesan adalah hak semua orang, dan tidak wajib menjadi miskin, bodoh dan melarat terlebih dulu untuk bisa dikatakan sukses. Bukankah banyak orang dari generasi ke generasi secara linear berada di jalur sukses? Bahwa orang-orang sukses bekerja sangat keras itu pasti, tetapi kerja keras tidak perlu diidentikkan dengan kemelaratan.

Mencampur aduk antara memotivasi kesuksesan dengan menceritakan kemelaratan atau kegagalan adalah menggabungkan dua proposisi yang berlawanan (positif-negatif) dalam satu tempat, yang harus dihindari jika ingin pembicara fokus pada satu topik.

Secara kurang tepat, sayangnya, hal ini lazim disampaikan oleh penceramah berpengalaman sekalipun. Misalnya, ada penceramah yang mengatakan, “Aduh,,, remaja putri sekarang kalau naik motor, bertiga dengan celana pendek tanpa lengan dan dandanan menor menggoda, memamerkan pahanya yang mulus. Malam-malam mereka keliaran. Ini kebablasan dan rusak!” Sekarang apa yang ada di benak Anda? Membayangkan cabe-cabean naik motor bertiga, bukan?! Ketimbang berpikir bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut.

Kedua, jika orang-orang merasa tidak lebih melarat daripada pembicara/penulis, bisa saja mereka merasa tidak perlu sukses—kesuksesan yang didefinisikan si pembicara. Tentu saja ini akan kontraproduktif terhadap motivasi yang dimaksud, kecuali pembicara hanya ingin narsis ketika menyampaikan motivasi di depan khalayak. Supaya dia dibilang hebat karena berhasil bebas dari zona kemelaratan yang mencekam.

Selanjutnya, mendramatisasi kondisi kegagalan saat memotivasi orang untuk sukses justru rawan digunakan untuk mengafirmasi kegagalannya, ketimbang keharusan untuk suksesnya. Ada motivator dengan lantang berkata, “Bill Gates gak lulus kuliah, dan dia jadi orang terkaya di dunia. Betapa banyak orang tak lulus kuliah tapi doktor bekerja padanya,” katanya dengan mantap. Lalu dia menceritakan dirinya yang hanya lulusa S1 tetapi kerap diundang untuk memotivasi dosen-dosen (yang lulusan S2 atau S3)—hanya untuk mengatakan jika untuk sukses tak perlu harus kuliah tinggi-tinggi.

Motivator jenis ini jelas mengalami kegagapan cara pikir. Untuk melihat kasus di atas secara adil, Bill Gates jelas mengalami kegagalan sebagai mahasiswa. Sebaliknya, dia sukses sebagai pengusaha. Di sini ada dua hal berbeda, yang tidak bisa disatukan. Gagal harus dibilang gagal, dan sukses pasti ada sebabnya. Sukses bukan karena gagal, tetapi karena berhasil dengan apa yang menjadi cita-citanya.

Seterusnya, membanggakan tampil di kalangan orang-orang yang lebih tinggi gelar akademiknya tidak perlu pula dibanggakan, pun bukan berarti dia lebih sukses dari pendengarnya. Bukankah seekor monyet juga tampil di hadapan anak-anak? Apakah lantas seekor monyet yang pandai menari-nari berstatus lebih tinggi daripada anak-anak yang tertawa menanggapnya?

Memotivasi orang untuk sukses dengan dramatisasi kemelaratan diri di masa lalu hanya mencerminkan jika luka-luka tempo hari belum sembuh sehingga harus meminta belas kasihan. Orang seperti ini justru terjebak dalam cara pandang yang sesat tentang bagaimana seharusnya mengkomunikasikan ide.

Kesuksesan tidak perlu dibesar-besarkan dengan mendramatisasi kemiskinan dan kesusahan di masa lalu, karena semua orang pasti sudah tahu kuncinya, yakni perencanaan, kerja keras dan kemampuan belajar secara konsisten. Siapa pun dia yang melakukan ketiga hal sersebut pasti berhasil dengan apa yang dicita-citakannya, terlepas dari masa lalunya yang miskin dan melarat atau secara linear sudah berada di jalan kemapanan.

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
Pendidikan