Pendidikan

Kekerasan seksual oleh orang tua kepada anak yang dianggap biasa

4.6K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:50
15 MAR 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Banyak orang tidak membayangkan jika orang tua atau saudara bisa melakukan kekerasan seksual. Akan tetapi, orang baru terkejut ketika ada kasus yang terungkap, terutama jika ditangani polisi dan disebarluaskan media.

Akan tetapi, butuh horor untuk polisi turun tangan, seperti perkosaan. Di luar itu, sejatinya ada beberapa jenis kekerasan seksual yang lebih sering diabaikan karena dianggap  masih samar-samar. Atau, semata-mata karena kekurangan pengetahuan tentang hal tersebut.

Tulisan ini akan membahas kekerasan seksual khusus oleh orang tua terhadap anak. Untuk memulai, sebaiknya kita lihat terlebih dulu jenis kekerasan seksual. Setidaknya ada empat jenis kekerasan seksual yang terjadi di keluarga, yakni kekerasan seksual secara fisik (seperti memperkosa atau incest), overt sexual (seperti voyourism atau exhibitionism), covert sexual (seperti ucapan-ucapan tak senonoh atau pelanggaran privasi), dan kekerasan seksual secara emosional.

Bahasan kali ini akan fokus pada yang terakhir, yakni pemberian luka-luka seksual secara emosional kepada anak oleh orang tua. Diskusi ini penting dikemukakan karena terlalu banyak orang menganggapnya sebagai hal biasa, bahkan dikeluarkan dari definisi kekerasan seksual dalam hukum pidana. Padahal, dampak luka kejiwaan pada anak tidak bisa dibilang sepele.

Kekerasan seksual secara emosional ‘emotional sexual abuse’ terjadi ketika pasangan kehilangan keintiman. Mereka lalu mencari kompensasi dalam dua skenario, yaitu ayah menjalin koalisi dengan anak perempuan dan ibu dengan anak lelaki. Kondisi kedua adalah ayah berkoalisi dengan anak lelaki dan ibu dengan anak perempuan.

Psikolog AS John Bradshaw (1933-2016) dalam bukunya Homecoming: Reclaiming and Championing Your Inner Child menyebut kondisi di atas terjadi karena suami-istri tidak mau menghabiskan waktu bersama, sehingga harus memilih kedekatan dengan anak. Hal ini terjadi akibat hubungan pernikahan yang memburuk, hambar, atau bahkan kehilangan arah: tak tahu apakah harus bercerai atau tidak.

Pada skenario pertama, ayah menjadikan anak perempuan sebagai putri kecil yang harus dilayani sedemikian rupa, dijadikan seperti boneka yang lucu, atau dijadikan pengemban urusannya ‘caretaker’ laiknya seorang ibu. Di sisi lain, ibu menjadikan anak lelakinya sebagai pria-kecil, pengganti pasangan (laiknya suami jadi-jadian), atau pengemban urusannya ‘caretaker’ seperti ayah ke anak.

Ketika seorang suami tidak mendapatkan kebutuhan dari pasangan, dia akan dicekam kesepian. Kemudian dia memilih dekat dengan anak perempuannya, melebihi kedekatan dengan istri. Pergi ke mal, nonton, dan menikmati akhir pekan bersama anak perempuan, dengan mengesampingkan istri. Sementara itu, ibu menjadikan anak lelakinya sebagai pasangan semu: mengantar ke salon, belanja ke mal, nonton dan sejenisnya.

Pada kasus di atas, suami-istri yang hubungannya tidak harmonis tersebut melakukan “peromantisan” hubungan orang tua-anak. Orang tua memanfaatkan anak sebagai obat dari perasaannya yang sepi dan kering akan cinta.

Dalam situasi seperti ini, hubungan anak perempuan-ibu dan ayah-anak lelaki akan selalu diliputi konflik kecemburuan. Hubungan masing-masing anggota keluarga menjadi rumit dan semua anggota akan mengalami kekaburan dalam melihat realitas.

Pada skenario ke dua, ayah berkoalisi dengan anak lelaki dengan cara menggunakan anak sebagai perluasan diri ‘extension of self’. Anak dicetak atau dipaksa untuk menjadi apa yang diinginkan ayah. Pada kondisi ini, anak dijadikan sebagai pengganti dirinya ‘surrogate self’.

Sebetulnya, yang ingin bisa bermain piano adalah ayah, tapi anak diminta kursus musik. Ayah ingin menjadi birokrat, lalu anak dipaksa masuk institut pemerintahan; padahal, anak tidak suka dan lebih menyukai seni.

Sementara itu, istri membangun koalisi dengan anak perempuan dengan menjadikannya apa yang selama ini dia tidak pernah bisa raih. Dia ingin popularitas, lalu anak diminta menjadi artis dengan aneka cara.

Orang cenderung akan melakukan apa yang disukainya. Dia rela menunggu sampai kesempatan itu datang. Jika Anda amati, misalnya, ada birokrat yang tidak betah di kantor dan memilih keliaran di tempat lain, sejatinya dia tidak menyukai profesinya. Dia terpaksa melakukannya karena ingin gaji saja, atau dulu dia masuk karena diselundupkan oleh orang tuanya.

Awalnya ini hanya seolah hanya masalah internal keluarga semata, tapi ternyata dampaknya bisa sangat luas, terlebih jika anak yang jiwanya disfungsi tersebut memegang jabatan penting. Harus diingat pola ini: negara dibentuk individu-individu dan individu dibentuk di keluarga. Oleh karena itu, keluarga harus menjadi perhatian kita bersama.

Secara fisik, perlakuan-perlakuan di atas tak tampak sebagai kekerasan seksual. Maka, banyak orang menganggapnya wajar. Padahal, anak yang diperlakukan seperti ini akan kehilangan identitasnya. Dia rawan mengalami depresi, kecanduan, dan ketergantungan 'co-dependency' kepada sesuatu yang tidak seharusnya.

Anak-anak cenderung mengidealkan orang tua. Oleh karena itu, mereka sering tidak sadar jika orang tua telah melakukan kekerasan kepada mereka. Maka, kitalah yang harus bertanggung jawab dengan lebih dulu memahami fungsi sebagai orang tua dan pasangan (suami atau istri). Menikah dan berkeluarga berarti harus siap belajar sepanjang hayat, karena kita sedang membangun dan mengelola sebuah sistem.

Pendidikan