Pendidikan

Hasrat memberi dan penghalangnya

7.3K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
07:14
12 JUL 2017
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI - Filsuf Cina Lao-Tzu (meninggal 531SM) mengatakan bahwa kebaikan dalam kata-kata akan memberikan kepercayaan diri; kebaikan dalam berpikir akan menciptakan kedalaman; kebajikan dalam memberi akan menghasilkan cinta. Klausa terakhir dari pernyataan Lao-Tzu atau Laozi tersebut akan menjadi bahasan kita.

Seorang bayi bisa memberikan senyum di hari pertama dia dilahirkan. Apabila orang-orang di sekitarnya gemar memberikan balasan hadiah senyuman, dia akan tumbuh menjadi pribadi yang murah senyum.

Senyum membutuhkan 26 otot wajah. Oleh karena itu, semakin dilatih, orang semakin mudah untuk tersenyum. Otot bisep yang dilatih terus-menerus akan membesar dan semakin kuat untuk mengangangkat beban, sehingga benda yang tadinya dinilai berat akan terasa ringan.

Pada tahap selanjutnya, usia 4-6 bulan, anak mulai dapat memegang benda-benda, termasuk makanan seperti biskuit atau kue kering. Pada tahap ini, bayi akan sering menyodorkan apa yang dipegangnya ke orang sekitar, untuk berbagi entah makanan atau mainan. Bahkan, terkadang, dia mengambil makanan yang sudah berada di mulutnya untuk diberikan kepada ayah atau ibunya yang biasa menyuapinya. Ini membuktikan bahwa memberi adalah fitrah manusia yang harus dijaga.

Sejak kapan orang mulai sulit memberi?

Karena memberi adalah hasrat primordial manusia, pengasuhanlah yang merampas kehendak untuk berbagi. Anak akan berubah menjadi dingin apabila senyum pemberiannya tak pernah direspons oleh orang-orang sekitarnya. Anak juga akan berhenti mengulurkan tangan apabila tak seorang pun menghargai upayanya.

Selain itu, pengabaian hak-hak anak secara umum dari orang tua juga sangat manjur membuat anak pelit sepanjang sisa hidupnya. Anak yang diabaikan hak-haknya akan selalu merasa tidak aman dan dicekam rasa takut kehilangan terus-menerus.

Memberi berarti harus menghilangkan sebagaian hak milik, ini sangat ditakuti orang-orang tersebut. Oleh orang pelit, frasa “give and take” akan diterjemahkan secara terbalik menjadi “menerima dan memberi”.

Orang pelit, ibaratnya, jika memasukkan kedelai dari mulutnya, dia berharap akan mengeluarkan kecambah dari pantatnya. Lalu, kecambah ini hendak dimakannya pula dan berharap keluar menjadi oncom, sehingga bisa dimanfaatkan lagi tanpa berkurang manfaatnya. Karakter orang pelit selalu ketakutan dicekam perasaan kehilangan, sebagai akibat dihilangkannya kebutuhan pokoknya—jika memang tidak diajari untuk tidak memberi oleh pengasuhnya.

Semua perilaku adalah pilihan, termasuk ingin bertindak dermawan atau bakhil. Akan tetapi, orang pasti tidak beruntung jika memilih untuk medit. Pasalnya, dalam semua budaya dan agama, orang yang pelit—apalagi mengajak orang untuk menjadi kikir bin lokek—akan dikecam habis-habisan.

Seperti ucapan Lao-Tzu di atas, memberi akan menumbuhkan cinta. Pernyataan ini juga pernah terlontar dari lisan Nabi Muhammad SAW, “Salinglah memberi hadiah niscaya kalian akan saling mencintai” (HR. Al-Bukhari).

Karena agama selalu identik dengan cinta, wajar saja jika orang yang singkat tangan bakal dicaci karena berantitesis dengan upaya dan proses membina cinta kepada sesama. Orang medit adalah mereka yang terhijab dari kebenaran.

Jangan halangi orang untuk menjadi dermawan

Di sisi lain, kita juga tidak boleh menghalangi orang untuk menjadi dermawan. Dengan cara apa? Tentu saja dengan memberikan kesempatan orang lain untuk bisa memberi. Jika ada orang yang menawarkan untuk membayar tagihan makan kita, harus kita berikan dia kesempatan. Dengan cara itu kita memberikan dia kesempatan untuk berbuat baik.

Selanjutnya, uang yang tadinya kita siapkan untuk membeli makanan tersebut dapat kita gunakan untuk membayar tagihan makanan orang lain. Dengan cara ini kebaikan akan menjadi rantai yang tak berujung.

Terkadang kita dibuat sulit dengan budaya basa-basi beracun, seperti tak benar-benar berniat mentraktir tetapi pura-pura hendak membayar tagihan orang lain. Hal ini kemudian membuat penerimanya merasa tak yakin, apakah benar-benar akan mentraktir atau sekadar lipsing bak penyanyi dengan pita suara kendur dan kapasitas paru-paru yang hanya cukup untuk bernapas.  Terlepas dari kemungkinan ini, budaya adalah milik kita. Jadi, tidak akan ada masalah jika kita mulai membudayakan untuk selalu menghargai pemberian orang, apa pun itu, dengan cara menerimanya dengan tulus.

KATA KUNCI : , , , , ,
Terbaru
Pendidikan