Pendidikan

Aksara di sekolah kita

7.9K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
07:00
15 JUL 2017
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI - Secara tradisional, literasi dipahami sebagai kemampuan membaca, menulis dan aritmetika. Namun, penggunaan istilah tersebut dalam dunia modern dimaknai secara lebih luas, meliputi kemampuan menggunakan bahasa, angka, gambar, komputer, keuangan dan sebagainya untuk memahami dan memperoleh pengetahuan.

Dalam artikel ini, literasi dimaknai sebagai proses merepresentasikan gagasan melalui alfabet, aksara atau huruf. Jadi, istilah literasi difokuskan pada kemampuan baca-tulis.

Tahun lalu, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (Unesco) merayakan Hari Aksara Internasional (International Literacy Day) yang ke-60 dengan tema “Membaca Masa Lalu, Menulis Masa Depan.” Tema ini diambil karena literasi adalah fondasi untuk membangun masa depan yang berkelanjutan bagi semua. Saat ini, 775 juta orang dewasa masih buta huruf, dan 2/3 di antara mereka adalah perempuan. Sementara itu, 60,7 juta anak tidak dapat mengakses sekolah, jumlah ini belum termasuk yang putus sekolah.

Di sekolah, literasi tidak semata-mata dimaksudkan membebaskan anak dari buta huruf, tetapi lebih dari itu, yakni untuk membuat siswa dan seluruh warga sekolah (orang tua, wali siswa dll) sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang sanggup meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui membaca dan menulis.

Akhir 2016, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD, Organisation for Economic Co-operation and Development)— yang melaksanakan penilaian tiga tahunan atas budaya literasi 72 negara melalui Program for International Students Assessment (PISA) melansir indeks budaya literasi siswa antarbangsa.

Indeks literasi sains dan matematika siswa Indonesia naik cukup bermakna masing-masing 21 dan 11 poin: 382 poin pada 2012 menjadi 403 tahun 2015, serta 375 tahun 2012 dan 386 pada 2015. Akan tetapi, indeks literasi membaca hanya naik satu poin: 396 pada 2012 dan 397 pada 2015. Berangkat dari survei ini, budaya membaca siswa dari tahun ke tahun cenderung stagnan, macet seperti lalu lintas di Jakarta. Aksara tampak belum diyakini sebagai objek krusial bagi keberhasilan pendidikan.

Sementara itu, berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara dalam minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, Indonesia berada di urutan 34 di atas Jerman, Portugal, Selandia Baru dan Korea Selatan.

Literasi adalah modal memperoleh pengetahuan. Karena salah satu modal utama ini kedodoran, wajar jika peringkat kognisi siswa Indonesia sangat rendah. Pada 2014, Pearson Education menempatkan siswa Indonesia di peringat lima puluh dari lima puluh negara yang disurvei berdasarkan aspek kognitif. Sementara itu, lembaga jasa penilaian asal Inggris itu menempatkan mahasiswa Indonesia satu tingkat lebih baik—meskipun masih buruk, yakni di peringkat ke-49.

Dalam upaya menumbuhkan budaya literasi, pemerintah melalui Kemdikbud meluncurkan sebuah gerakan yang disebut Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan ini bertujuan supaya siswa memiliki budaya membaca dan menulis sehingga tercipta pembalajaran sepanjang hayat. 

Supaya implementatif, Kemdikbud juga sudah membuat panduan berupa Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah. GLS dilakukan sekaligus untuk memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015.

Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik.

Sayangnya, dari pengamatan di beberapa sekolah, imbauan ini tak mendapat sambutan luas. Suasana pembelajaran masih sama seperti biasa. Akan tetapi, kabar baiknya, beberapa sekolah memasukkan materi literasi dalam kegiatan orientasi mereka (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, MPLS). Hal ini setidaknya membuat kita yakin bahwa sebenarnya sekolah-sekolah kita mempunyai niat baik dalam menggaungkan gerakan literasi. Hanya saja kendalanya barangkali infrastruktur (terutama ketersediaan buku) dan kualitas guru, isu klasik yang di sini kita semua harus memerjuangkannya.

Sejak dicanangkan, GLS seharusnya sudah berjalan dua tahun. Hasil konkret dari gerakan setidaknya baru bisa kita lihat pada 2019, saat survei PISA kembali dilaksanakan. Kita berharap budaya literasi anak didik kita meningkat untuk memberikan harapan bagi peningkatan kualitas pendidikan kita yang selama ini terkesan jalan di tempat—apabila membandingkan dengan negara tetangga—meskipun anggaran sudah dinaikkan beberapa kali lipat sejak lebih dari satu dekade.

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
Pendidikan