Pendidikan

Merendahkan martabat bahasa sendiri

6.2K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
16:31
24 JUL 2017
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Pada sebagaian masyarakat kita, tampak ada ketidakpercayaan diri yang besar terhadap penggunaan bahasa sendiri dalam sejumlah kesempatan. “Bahasa sendiri” dalam hal ini mengacu kepada bahasa ibu atau bahasa Indonesia yang biasa kita gunakan secara efektif dalam kehidupan sehari-hari untuk mengungkapkan gagasan yang ada di kepala kita.

Dalam berbahasa Indonesia, misalnya, ketidakpercayaan diri—bahkan cenderung merendahkan—dalam menggunakannya dapat kita temui dalam pilihan kata pada sejumlah bidang.

Pertama, di ranah keagamaan. Di kalangan umat Muslim, umpamanya, jika ada dua kata, yang satu dari bahasa Indonesia dan yang lain dari bahasa Arab, yang diberikan konotasi “baik” adalah kosakata Arab.

Kita ambil kata kawin dan nikah. Sebetulnya, dua kata tersebut adalah sinonim. akan tetapi, orang cenderung menganggap nikah sebagai istilah yang lebih suci dan resmi. Sementara itu, sebaliknya, kata kawin cenderung digunakan untuk mengacu aktivitas yang liar dan nakal. Misalnya, orang mengatakan, “Kawin sih sering, nikah yang belum.” Maksud dari penutur adalah ‘berhubungan kelamin sih sering, kawin (resmi) yang belum.’

Contoh lain, ketika orang ingin mewartakan citra diri sebagai manusia baik (saleh) dan taat beragama, dia akan menyingkirkan kata-kata dari bahasa ibunya. Dipilihlah kata ikhwan-akhwat ketimbang saudara-saudari. Bahkan, kata ikhwan-akhwat yang asalnya bermakna ‘saudara-saudari (jamak)’ diperluas maknanya menjadi ‘lelaki-perempuan’. Seperti orang mengatakan, “Jamaah akhwat di belakang.” Maksudnya adalah “jemaah perempuan di belakang.”

Demikian pula, kata saya-Anda dicampakkan dan diganti ana-antum; pertemuan disingkirkan dengan liqo’, dan sederet penggunaan kata bahasa Arab lain yang sejatinya ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

Di bidang pendidikan, orang yang ingin menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya pintar akan lebih memilih kosakata asing yang rumit, biasanya dari bahasa Inggris, Prancis atau Latin.

Mari perhatikan kalimat ini, “Kita harus memiliki power yang kuat untuk meng-endorse penyelesaian problem ini.” Mencermati pesan yang ingin disampaikan oleh penutur, pasti tidak ada persoalan menggunakan kosakata bahasa Indonesia secara keseluruhan. Akan tetapi, penutur agaknya ingin mengungkapkan pesan tambahan lain, lebih dari sekadar apa yang ada dalam teks.

Penutur kalimat tersebut ingin tampak pintar dengan menggunakan bahasa Inggris. Hal ini terjadi karena konotasi bahwa bahasa Inggris adalah bahasa kaum terdidik. Dia ingin memanfaatkan konotasi tersebut dengan memindahkan makna ‘terdidik’ ke dalam dirinya. Secara tidak langsung, dia hendak menyatakan bahwa jika dalam setiap tuturan tidak ada kata asing, dia gagal menunjukkan kepintarannya.

Di bidang pekerjaan, penggunaan istilah asing juga cenderung dianggap lebih pantas, sopan dan keren.

“Anda Satpam di sini?”

“Iya, pak, saya security,” jawab seorang pria yang bekerja di sebuah perusahaan sebagai tenaga keamanan.

Di tempat lain, pembantu rumah tangga menyebut dirinya dengan asisten (assistant), pelayan dengan waiter.

Yang menjadikan kosakata bahasa sendiri tidak menarik lagi dipakai jika berhadapan dengan kosakata asing adalah pemberian makna tahap kedua (konotasi) yang hampir selalu lebih baik dari kosakata dalam negeri.

Dalam benak sebagian masyarakat kita, segala sesuatu yang berkolokasi asing memang kerap dikonotasikan bagus. Misalnya, dua istilah dalam perdagangan, barang impor dan kualitas ekspor. Kedua frase tersebut sama-sama dinilai bagus karena yang pertama ‘dibuat di luar negeri’, sedangkan yang kedua ‘pantas dinikmati orang luar negeri’. Gampangnya, asal berbau luar negeri, sesuatu dinilai bagus, termasuk kosakata.

Perasaan rendah diri yang menjalar hingga cara berbahasa masyarakat kita patut menjadi perhatian. Pasalnya, menurut hipotesis Sapir dan Whorf yang terkenal itu, struktur bahasa mempengaruhi cara pikir dan perilaku. Jika teori ini benar, Anda akan lihat orang yang gemar menggunakan istilah-istilah Arab ketika berbicara dalam bahasa Indonesia biasanya akan kearab-araban; yang menggunakan bahasa Inggris akan kebarat-baratan (cara pikir dan perilakunya).

Anda harus bedakan antara campur kode dan menggunakan bahasa asing. Yang sedang kita bahas adalah campur kode. Yang sehat adalah Anda menggunakan bahasa sendiri secara tertib, atau menggunakan bahasa asing secara keseluruhan, bukan dicampur-campur untuk mengungkapkan pesan terselubung.

Penggunaan istilah yang rumit, asing, atau di luar kelaziman secara psikologis muncul dari diri yang membutuhkan penegasan dari luar. Ingin disebut saleh, tetapi belum yakin dengan kesalehan, lalu orang menggunakan laras bahasa atau jargon-jargon yang biasa dipakai dalam agamanya untuk menarik perhatian orang lain supaya menghakimi dirinya sebagai orang yang bertakwa. Tidak memiliki apa-apa untuk dibanggakan, orang lalu menggunakan banyak istilah asing untuk membantu membuatnya berarti dengan penilaian “pintar” dari orang lain.

Dari sisi pengembangan bahasa Indonesia, keadaan ini tentu tidak menguntungkan karena bahasa nasional ini sama sekali tak dianggap bernilai oleh penuturnya, apalagi bahasa daerah yang malah dianggap udik. Bahasa Indonesia hanya dipakai ketika pemakainya tidak mengetahui bahasa asing atau ketika dia tidak memiliki motif lain selain menyampaikan gagasan yang ada dalam kata-katanya.

KATA KUNCI : , , ,
Pendidikan