Feminin

Ini yang Terjadi jika Anda Pamer Foto Perasan ASI di Medsos

17.8K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
08:00
26 NOV 2016
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

Rimanews – Cukup mudah kita temui, terutama, ibu-ibu muda memamerkan hasil perasan ASI berikut dot dan alat pompanya sekaligus di berbagai akun media sosial, seperti Facebook dan Instagram.

“Satu dienen satu dipompa, hasil tetap melimpah,” contoh bunyi postingan di FB berikut disertakan gambar botol susu bayi dan alat pompa manual yang dimilikinya.

Harus diketahui bahwa pemaknaan sebuah kata dimungkinkan tidak hanya berhenti pada kata tersebut. Dengan kata lain, setiap kata tidak hanya memiliki makna konseptual, yakni makna yang hanya terbatas pada objek yang diacu, atau makna denotatif. Akan tetapi, pamaknaan sebuah kata dapat bertaut dengan keadaan lain di luar kata tersebut, yang oleh ahli bahasa sebut dengan makna asosiatif.

Orang sangat mudah mengasosiasikan ASI dengan payudara. Bagaimana jika gara-gara postingan Anda, orang lalu memiliki citra bentuk payudara di kepalanya atau membayangkan saat Anda memompa ASI? Hal ini tentu tidak Anda inginkan, bukan?!

Baca: Tanggalnya Ujub dan Sombong di Media Sosial

Lagipula, banyaknya air perasan ASI yang Anda beritahu ke khalayak juga dapat menimbulkan asosiasi tertentu. Anda mungkin berharap para pegiat medsos akan berasosiasi dengan kesuburuan Anda sebagai perempuan. Akan tetapi, siapa bisa menjamin jika orang-orang tidak mengasosiasikan dengan ukuran payudara Anda? Kecuali hendak pamer ukuran bra, pikirlah baik-baik jika ingin memposting hasil perasan ASI.

Di samping itu, setiap ungkapan juga memiliki nilai rasa atau kesan yang dikandungnya, yang biasa disebut konotasi—bisa baik atau buruk. Jangan sampai salah membangun konotasi terkait diri Anda. Postingan perasan ASI yang Anda muat di akun medsos bisa saja mendapatkan kesan negatif bagi lebih banyak orang, ketimbang konotasi yang positif.   

Jadi, terutama para ibu-ibu muda, hendaklah berhenti memposting perasan ASI di media sosial.

Tidak semua yang kita inginkan harus dieksekusi atau dituruti, sama seperti keinginan untuk memiliki barang-barang tertentu: kadang harus ditahan, ditunda atau dilupakan karena akan menimbulkan dampak buruk bagi diri kita atau orang lain.

Memposting hasil perasan ASI secara personal tidak akan berdampak apa-apa bagi Anda, kecuali menebalkan kenarsisan. Sementara itu, bagi orang lain, postingan Anda akan membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Anda mungkin akan menyalahkan orang-orang yang mempunyai asosiasi-asosiasi yang tidak Anda harapkan. Akan tetapi yang jelas, ASI adalah produk dari organ tubuh yang lekat dengan asosiasi seksual.

Ungkapan lama mengatakan, “Semakin banyak orang bicara, semakin berpeluang dia tergelincir.” Dalam konteks berkomunikasi di media sosial, semakin sering orang memposting status dan gambar, semakin berpeluang dia jatuh dalam kesalahan.

Sebagian dari kita mungkin berpikir bahwa akun FB atau Instagram adalah milik kita, maka suka-suka kita hendak melakukan apa saja. Ketahuilah bahwa medsos bukan ranah privat, sebab siapa pun bisa melihat segala ekspresi dan sikap kita. Di ruang seperti ini, justru kita secara langsung dituntut untuk lebih memperbanyak kesantunan dan kehati-hatian.

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
Feminin
Berita Terkait