Kesehatan

Patuh berobat cegah komplikasi diabetes tipe 2

4.3K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
13:51
24 MAR 2017
Reporter
Sumber
Rimanews

Rimanews – PT Merck Sharp and Dohme Indonesia (MSD), juga dikenal sebagai Merck & Co., Inc., Kenilworth, NJ, USA (NYSE: MRK) di Amerika Serikat dan Kanada, mewujudkan komitmen perusahaan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap diabetes. Pasalnya, kepatuhan berobat dapat mencegah komplikasi diabetes tipe 2. 

MSD Indonesia dalam hal ini berkomitmen mendukung program pemerintah dalam hal pencapaian target pengobatan dan kepatuhan penderita diabetes melalui berbagai program edukasi baik untuk peyandang, masyarakat luas dan juga para dokter yang berada di lini depan pelayanan kesehatan masyarakat.

Hoerry Satrio, Communication and Market Access Manager MSD, mengungkapkan, "Diabetes adalah prioritas bagi MSD, dan MSD akan terus berinovasi dalam pengobatan diabetes melalui perkembangan riset dan kolaborasi yang strategis."  

Saat ini jumlah penderita diabetes tipe 2 (DM 2) jauh lebih banyak dibandingkan tipe 1 (DM 1). Jika diabetes tipe 1 merupakan penyakit bawaan, di mana pankreas tidak bisa memproduksi insulin; umumnya terjadi pada anak-anak, diabetes melitus tipe 2 berkembang akibat gangguan kerja insulin.

Tubuh mengalami resistensi terhadap insulin sehingga tidak merespon insulin sebagaimana mestinya, sehingga glukosa dalam darah sulit masuk ke sel. Bisa pula karena sel-sel beta di pancreas tidak cukup memproduksi insulin. Kedua kondisi ini menjadikan kadar gula darah menjadi tinggi (hiperglikemi). 

Selain prevelensi dan jumlah penderita yang tinggi, masalah terkait diabetes yang dihadapi sebagian besar negara berkembang seperti di Indonesia adalah rendahnya penderita diabetes yang terdiagnosis, apalagi yang mencapai target terapi. Data Riskesdas 2013, dari 6,9 persen penyandang diabetes di Indonesia, hanya 30,4 persen di antaranya yang terdiagnosis; sisanya 69,6 persen belum terdiagnosis5. Dari yang terdiagnosis ini, hanya sepersekian yang berobat secara teratur, dan lebih sedikit lagi yang kadar gula darahnya terkontrol hingga mencapai target.

"Diabetes yang tidak terkontrol membuat tubuh berada dalam kondisi hiperglikemi kronik. Inilah yang bisa menyebabkan komplikasi, baik mikrovaskular seperti kehilangan penglihatan (retinopathy diabetic), kebas/baal karena saraf rusak (neuropathy diabetic), gangguan ginjal; maupun makrovaskular seperti pengerasan pembuluh darah jantung (aterosklerosis kardiovaskular)," ungkap Dr. Suria Nataatmadja, Medical Affairs Director MSD. 

Menurut Dr. Suria, pada akhirnya kualitas hidup menurun karena tidak bisa melakukan berbagai kegiatan dengan optimal. Biaya yang harus dikeluarkan pun amat besar untuk mengobati komplikasi-komplikasi yang sudah terjadi. Maupun, komplikasi diabetes tipe 2 berhubungan dengan tingkat kematian, biaya perawatan kesehatan yang lebih tinggi, dan penurunan kualitas hidup.

Dr. Med. Beny Santosa, SpPD, KEMD, menjelaskan, "Penyebab komplikasi diabetes di antaranya adalah kontrol glukosa darah, tekanan darah, dan kadar lemak darah yang buruk. Kedua, ketidakpatuhan berobat. Sudah terbukti bahwa kegagalan penderita diabetes minum obat yang diresepkan dengan benar (keteraturan dosis dan waktu minum), berkontribusi terhadap kondisi pasien." 

Data menunjukkan rata-rata setengah pasien menghentikan pengobatan dalam waktu 12 bulan sejak memulai pengobatan. Selain itu, masih ditambah dengan malas konsultasi ke dokter untuk sekadar memantau gula darah.

Ketidakpatuhan pasien dalam berobat inilah yang menjadi  salah satu akar masalah yang membuat diabetes jadi tidak terkontrol. Diabetes adalah penyakit kronik, sehingga pengobatannya pun berjangka panjang bahkan harus terus dilakukan seumur hidup. 

"Ini yang kadang mempersulit pengobatan; pasien sudah merasa lebih baik sehingga merasa tidak perlu lagi mengonsumsi obat. Atau mereka khawatir karena menurut tetangga, teman, atau saudara bahwa obat bisa merusak ginjal atau liver, sehingga menghentikan pengobatan, dan lalu menyarankan makan obat herbal yang sebetulnya belum pernah dideteliti secara ilmiah!" papar Dr. Benny.

Obat-obatan bermanfaat membantu mencapai target gula darah. Asosiasi Diabetes Amerika (ADA), menargetkan nilai HbA1C <7 persen, kadar gula darah puasa 80 – 130 mg/dl, gula darah setelah makan <180 mg/dl7. HbA1C menunjukkan rerata gula darah dalam tiga bulan terakhir. Tekanan darah, profil lipid (kolesterol total, HDL, LDL, trigliserida) juga perlu dikontrol untuk meminimalkan terjadinya komplikasi.

Namun, pengelolaan diabetes harus mulai dari kedisciplinan seorang penyandang diabetes untuk merubah gaya hidupnya (pola makan dan aktivitas fisik) dan lalu dikukung oleh obat-obatan untuk mengontrol gula darah, baik oral maupun suntik insulin, sesuai anjuran dokter. 

Obat-obatan anti diabetes telah sangat berkembang. Kini tersedia berbagai macam pilihan obat oral maupun insulin, yang bekerja dengan cara yang berbeda-beda. Hingga kini, metformin yang bekerja dengan membuat sel-sel tubuh lebih rensponsif terhadap insulin, masih menjadi lini pertama pengobatan diabetes. 
 
Salah satu kelas obat oral yang lebih baru untuk pengobata DM 2 adalah DPP-4 inhibitor, yang bekerja dengan memblok enzim DPP-4. Enzim ini mengaktifkan hormon inkretin di usus, yang membantu pancreas memproduksi insulin dan menghentikan liver memproduksi glukosa8. Dengan dihambatnya DPP-4, inkretin bisa berfungsi optimal sehingga kadar gula darah bisa turun. 
 
DPP-4 inhibitor seperti sitaglipin, tidak memiliki efek meningkatkan berat badan. Ini telah dibuktikan baik dalam penelitian maupun secara klinis. Sitagliptin yang merupakan salah satu incretin based therapy jika dikombinasikan dengan metformin sejak awal mampu memberikan penurunan HbA1C yang signifikan. Sitagliptin sendiri sudah terbukti melalui penelitian TECOS, bahwa obat ini aman untuk digunakan pada penyakit diabetes dengan penyakit jantung, usia lanjut, penderita gagal ginjal.

Dengan penggunaan dini kombinasi Sitagliptin dan Metformin pada penderita diabetes yang sudah terbukti efikasi dan keamanan-nya, maka diharapkan akan semakin banyak penderita diabetes yang mencapai target pengobatan dan terhindar dari segala komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit diabetes itu sendiri.

Terbaru
Kesehatan