Kesehatan

Reproduksi remaja tonggak estafet masa depan bangsa

5.9K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
09:30
24 JUL 2017
Reporter
Andika Pratama
Sumber
Rimanews

Rimanews - Reproduksi para remaja di Indonesia merupakan tonggak estafet bagi pembangunan masa depan bangsa Indonesia. Karenanya, menjaga dan memelihara alat-alat reproduksi remaja menjadi tugas tanggungjawab seluruh stakeholders di Indonesia yang terlibat dalam pembangunan.

Hal itu diungkapkan oleh Peneliti Biomedis dan Reproduksi Manusia dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM) Evi Istiqamah saat Diskusi tentang "Perlindungan Reproduksi Remaja Menuju Masa Depan", di Kampus UGM, Yogyakarta, Minggu (23/07/2017).

"Organ reproduksi remaja saat ini, sangat menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia di masa depan. Sekarang mari berbenah, kita beri semangat pada remaja Indonesia," ujar Evi.

Ia menuturkan, saatnya kini untuk meningkatkan semangat bagi kalangan remaja dalam mempersiapkan diri menjadi orang tua di masa depan. Terutama, katanya, para remaja putri yang memiliki 2 organ utama yaitu ovarium dan rahim. 

Evi menjelaskan, bahwa rahim kelak menjadi tempat penyimpanan hasil pembuahan. Selain itu, rahim juga secara alami melakukan penyeleksian terhadap sperma yang bisa masuk saat terjadinya kesuburan. Karena itu, kesehatan dan kesiapan rahim untuk tugas mulia itu, mutlak dibutuhkan.

"Sehatkah rahim untuk menjalankan tugasnya, jika sang remaja terlibat dalam pergaulan bebas? Generasi seperti apa yang nantinya akan dilahirkannya untuk bangsa ini?," tanya Evi

Kesehatan reproduksi

Evi mengingatkan akan bahaya serius di masa depan jika perilaku pergaulan bebas dan Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender (LGBT) terjadi di kalangan remaja. Sebab, perilaku ini dipastikan mengganggu bahkan merusak kesehatan reproduksi para remaja di masa depan.

"Kalau nantinya lahir seorang anak dari hasil pergaulan bebas itu  apakah akan tumbuh sempurna atau justru rentan akan kecacatan karena sudah mengalami aborsi. Lalu organ intim wanita yang tidak terjaga karena pergaulan bebas, apakah bisa membangun seorang anak yang bisa membangun bangsa ini?," keluh Evi

Ia mengharapkan, setiap masyarakat Indonesia secara bersama memikirkan solusi untuk membantu remaja agar peduli akan perannya kelak sebagai ibu dan ayah. 

Ketahuilah bukan sekedar mengejar cita, tetapi juga mengejar pembagunan manusia kelak yang menjadi estafet perjuangan. Mereka sekarang tidak ada atau belum ada. Tapi jika ada, sangat terpengaruh dengan persiapan yang dilakukan remaja sejak dini," terang Evi yang juga merupakan staf pengajar program studi Kebidanan Fakultas Kesehatan, Universitas Muslim Indonesia Makassar.

Genetika manusia

Evi menambahkan, siklus genetika manusia akan terus diturunkan kepada keturunannya. Sehingga, jika ada kesalahan dalam mempersiapkannya maka ada 2 kemungkinan terjadi, yaitu remaja bisa sulit untuk hamil atau melahirkan anak cacat. 

Menyitir data penelitian yang telah dipublikasi, Evi memaparkan bahwa data infertilitas dari tahun ketahun pada seluruh negara di dunia, mengalami peningkatan. Banyak hal, lanjut Evi, yang belum dipikirkan sekarang yang seharusnya dipikirkan matang. Utamanya, persiapan remaja untuk menjadi orang tua. 

"Apakah mereka sadar bahwa kelak akan menjadi ibu yang akan menyumbangkan telurnya untuk perkembangan anak. Atau apakah remaja pria sadar kelak akan menyumbangkan spermanya untuk memberi kontribusi genetika bagi sang anak. Atau yang dipikirkan remaja hanya kepuasan sesaat, dan tidak peduli apakah menghasilkan anak yang seperti apa kelak? Apakah menghasilkan anak yang mampu bersumbangsih dalam membangun bangsa yang kita cintai ini, atau justru menjadi beban bagi negara?," ungkaonya.

Menurut dia, berbagai penyebab terciptanya sekaligus menumbuhsuburkan pergaulan bebas kerap terjadi secara nyata di hadapan masyarakat. Misalnya, film hollywood yang penuh dengan percintaan, Novel yang laris, bahkan tontonan Spiderman dan Superman yang konon menjadi pujaan anak-anak, serta sinetron dan drama Korea. 

"Intinya, kami mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama memikirkan langkah preventif bagi pembangunan generasi depan bangsa melalui pembangunan SDM remaja Indonesia. Salah satunya adalah mulai sekarang memelihara, menjaga dan merawat alat reproduksi remaja secara benar dan sehat. Organ itu akan membentuk generasi yang akan datang. Sumber daya manusia Bangsa ini," tandas Evi.

Data pemerintah

Data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memproyeksikan dalam Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035 (Bappenas, BPS, dan UNFPA 2013), bahwa tahun 2035 mendatang jumlah remaja perempuan akan berjumlah 22.481.900 atau 14,72% dari jumlah total perempuan.

Semakin meningkatnya perilaku seksual remaja diluar nikah membawa dampak yang sangat beresiko, yaitu terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan. Setiap tahun terdapat sekitar 1,7 juta kelahiran dari perempuan berusia di bawah 24 tahun, yang sebagian adalah Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD). Artinya, ada beberapa anak Indonesia yang sudah mempunyai anak.

Kesehatan