Kesehatan

Kematian Chester Bennington jadi momentum kesadaran penyakit mental

6.4K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
09:54
25 JUL 2017
Chester Bennington
Reporter
Abdullatif Assalam
Sumber
Rimanews

Rimanews - Tindakan bunuh diri yang dilakukan vokalis Linkin Park Chester Bennington seharusnya bisa menjadi momentum bagi pemerintah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya kesehatan mental, sebagaimana kematian Julia Perez yang membantu meningkatkan kesadaran tentang kanker serviks.

Bennington ditemukan tewas gantung diri di kediamannya di Palos Verdes Estates, Los Angeles, California, Amerika Serikat, Kamis (20/07/2017), bertepatan dengan hari ulang tahun sahabatnya Chris Cornell. Jasadnya ditemukan oleh pembantunya sekitar pukul 09.00 waktu setempat.

Dia dikabarkan memilih bunuh diri lantaran menderita depresi, dan sudah lama memendam keinginan tersebut.

Psikolog klinis dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Putra Wiramuda, mengingatkan pemerintah untuk segera meningkatkan kesehatan mental masyarakat Indonesia karena Badan Kesehatan PBB (WHO) secara tegas menyatakan bahwa pembangunan kesehatan fisik dan mental secara berimbang merupakan kewajiban yang harus ditanggung bersama oleh pemerintah dan segenap masyarakat.

“Kami mengingatkan pemerintah Indonesia untuk memerhatikan masalah kesehatan mental masyarakatnya. Sebab, isu kesehatan mental di negara berkembang, masih menjadi topik yang terpinggirkan,” ujar dia, dalam sebuah pernyataan, Senin (24/07/2017).

WHO juga menegaskan bahwa kondisi sehat bukan hanya lengkap secara fisik, tetapi juga mental serta kesejahteraan sosial.

“Dengan demikian terdapat kesenjangan antara cita-cita kesehatan yang diinginkan WHO dengan apa yang terjadi di negara yang sedang berkembang, khususnya Indonesia. Berdasarkan kenyataan tersebut sudah sepatutnya masyarakat untuk lebih aware (peduli) akan pentingnya kesehatan mental,” papar Putra.

Nasib penderita gangguan mental di Indonesia

“Saat ini, empat dari lima penderita gangguan mental belum mendapatkan penanganan yang sesuai dan pihak keluarga hanya menggunakan kurang dari 2 persen pendapatannya untuk penanganan penderita. Di Indonesia, stigma terhadap penderita menyebabkan para penderita semakin sulit untuk mendapatkan penanganan yang tepat.”

Riset Kesehatan Dasar menyebutkan, pada 2013 terdapat 56 ribu penderita yang dipasung karena stigma negatif, kurangnya informasi, dan buruknya fasilitas penanganan.

Riset tersebut juga mencatat bahwa pada 2007 terdapat sekitar 1 juta orang yang mengalami gangguan jiwa berat dan 19 juta orang yang menderita gangguan jiwa ringan hingga sedang. Dan jumlahnya terus meningkat secara signifikan.

“Angka-angka tersebut sebenarnya hanyalah puncak gunung es yang menyimpan potensi bahaya laten lain yang lebih besar. Intinya, isu kesehatan mental apabila terus menerus terpinggirkan akan berpengaruh buruk bagi Indonesia,” kata Putra.

“Penurunan produktifitas terbukti berdampak nyata pada perekonomian. DALY (Disability-Adjusted Life Year) atau waktu yang hilang selama setahun dari penderita gangguan mental ternyata 12,5 persen lebih besar daripada penderita penyakit jantung sistemik dan TBC.”

Langkah Produktif

Putra mengungkapkan, terdapat beberapa langkah produktif yang bisa dilakukan masyarakat dan pemerintah. Pertama, mengurangi stigma negatif terhadap para penderita serta menyadari bahwa para penderita sebenarnya juga merupakan seorang manusia yang layak untuk mendapatkan perhatian dan penanganan yang sesuai.

Kedua, dibutuhkan kepekaan terhadap sanak keluarganya. Bila salah seorang anggota keluarga terlihat memiliki beberapa gejala yang mengarah pada gangguan mental.

“Deteksi dini gangguan mental menjadi langkah penting yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi agar kondisi penderita tidak semakin buruk,” jelas Putra lagi.

Ketiga, menyediakan waktu untuk mendengarkan dengan tulus dan mengajak kerabat untuk berkonsultasi ke psikolog menjadi langkah awal penanganan.

Keempat, kesadaran bahwa kondisi gangguan mental sama pentingnya dengan kondisi gangguan fisik perlu ditingkatkan. Berkaitan dengan itu, pemerintah dapat memberikan sosialisasi dan edukasi tentang gangguan mental untuk mengurangi stigma dan salah persepsi yang sering disematkan masyarakat kepada penderita.

Kelima, penyediaan fasilitas dan kualitas penanganan penderita juga perlu diperhatikan agar penanganan menjadi lebih maksimal. Sudah saatnya alokasi dana tidak hanya berfokus untuk kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental, mengingat banyak riset yang menyatakan bahwa sebagian besar masalah kesehatan fisik berakar pada masalah mental.

“Keputusan bunuh diri yang dipilih Chester dapat menyadarkan masyarakat akan pentingnya untuk menyadari kondisi kesehatan mental masyarakat di sekitar. Melalui kejadian tersebut masyarakat dapat belajar untuk lebih memahami dan berempati kepada keluarga atau kerabat yang mengalami permasalahan kesehatan mental,” tandas Putra menutup siaran persnya.

Kesehatan