Amerika

Kunjungan dari enam negara mayoritas Muslim ke AS anjlok

5.6K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
18:42
09 JUN 2017
Dok. Pengunjuk rasa membawa poster bergambar Presiden Donald Trump disertai tulisan #NotMyPresident (bukan presiden saya). Foto: Reuters
Editor
Abdullatif Assalam
Sumber
Antara

Rimanews - Jumlah kunjungan warga enam negara mayoritas Muslim, yang masuk dalam daftar perintah eksekutif Donald Trump, ke Amerika Serikat anjlok meski aturan tersebut dibekukan secara legal.

Data pemerintah AS yang diterima kantor berita AFP, Kamis (08/06/2017), menunjukkan, terdapat 6.372 kunjungan dari Iran, Libya, Somalia, Sudan, Suriah dan Yaman ke Negeri Abang Sam pada Maret dan April tahun ini, turun hampir 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 12.100 kunjungan.

Angka kunjungan sedikit berubah pada bulan pertama setelah Trump menandatangani perintah eksekutif larangan masuk bagi warga beberapa negara mayoritas Muslim pada 27 Januari, yang mencakup Irak.

Larangan tersebut diblok dalam gugatan hukum oleh advokat hak imigrasi yang didukung dalam banding. Pengadilan memutuskan bahwa karena fokusnya terhadap negara mayoritas muslim, pemerintah Trump melanggar Konstitusi tentang larangan diskriminasi agama.

Namun, saat itu banyak warga yang berada di negara yang memiliki dokumen perjalanan legal Amerika Serikat bergegas pergi atau kembali ke Amerika Serikat karena khawatir revisi larangannya akan disahkan di pengadilan dan mereka akan terjebak di luar.

Akibatnya, ada 4.277 kedatangan dari keenam negara tersebut pada Februari turun tipis dibandingkan satu tahun sebelumnya menurut data Bea Cukai dan Patroli Perbatasan. Data Irak belum tersedia.

Pada 6 Maret satu versi baru larangan perjalanan diumumkan, dan Irak dicoret dalam daftar yang baru. Namun implementasinya kembali diblokir oleh dua perintah pengadilan. Pemerintah Trump pekan lalu menyatakan akan mengajukan banding ke Mahkamah Agung.

Sementara itu proses visa di enam negara itu sudah melambat dan angka kedatangan turun tajam menjadi 3.462 pada Maret dan hanya 2.910 pada April, sebagian besar dari Iran dan Suriah, demikian menurut warta kantor berita AFP

Terbaru
Amerika