Amerika

Trump Vs media mainstream

10.8K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
17:28
03 JUL 2017
Donald Trump
Reporter
Abdullatif Assalam
Sumber
Rimanews

Rimanews - Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus mengobarkan perang terhadap media mainstream yang dianggapnya suka menyebarkan berita palsu. Dan, media yang menjadi target favoritnya adalah CNN (Cable News Network) yang diubahnya menjadi FNN, fake atau fraud news network (jaringan berita palsu atau penipu).

"Saya sedang memperimbangkan mengubah nama #FakeNews CNN menjadi #FraudNewsCNN!" tulis Trump di Twitternya, @realDonaldTrump, pada Sabtu (01/07/2017) waktu Amerika.

Selang sehari, Trump yang sedang berlibur di resor golf Bedminster miliknya mengunggah klip video dirinya membanting seorang pria dalam pertandingan WWE. Video tersebut membuat banyak jurnalis geram lantaran kepala lawan yang dibantingnya diganti dengan logo CNN. Mereka menganggap Trump mendukung kekerasan terhadap wartawan.

Brian Stelter, reporter CNN, mengunggah pernyataan media tempatnya bekerja di Twitter yang berbunyi: "Menyedihkan ketika seorang presiden Amerika Serikat mendukung kekerasan terhadap wartawan. Jelas, (juru bicara Gedung Putih) Sarah Huckabee Sanders berbohong saat mengatakan bahwa presiden tidak pernah melakukan hal tersebut.

Dalam media briefing pekan lalu, Sanders mengatakan bahwa Trump sama sekali tidak pernah mendukung tindak kekerasan dalam bentuk apapun. Dia bahkan mengklaim bahwa yang dilakukan Trump justru sebaliknya.

"Alih-alih mempersiapkan perjalanan kenegaraannya ke luar negeri, untuk melakukan pertemuan pertama dengan (Presiden Rusia) Vladimir Putin, berurusan dengan Korea Utara, dan menyelesaikan rancangan undang-undang kesehatan, dia malah melakukan tindakan kekanak-kanakkan yang merendahkan martabat pemerintahannya. Kami akan terus melakukan pekerjaan kami. (Dan) dia harus mulai melakukan pekerjaannya," tambah CNN dalam pernyataan tersebut.

Trump tak suka media sejak kampanye

Sejak dilantik Januari, Trump selalu mengeluhkan laporan tak berimbang tentang pemerintahannya oleh media dan menyebut jurnalis sebagai oposisi. Tentu, pembahasan mengenai apakah media bias terhadap Trump patut untuk didiskusikan. Pekan ini, misalnya, CNN terpaksa menarik laporan investigasi serampangan terkait hubungan Rusia dan Trump. CNN bahkan membiarkan tiga jurnalis seniornya yang terkait dengan laporan tersebut mundur.

Namun, cuitan kebencian Trump terhadap media mainstream, khususnya CNN, di Twitter sebenarnya sudah lama terjadi. Catatan Bloomberg Politics, sejak mencalonkan diri sebagai presiden dari Partai Republik hingga Agustus tahun lalu, Trump menulis 256 kicauan negatif tentang organisasi media besar. Cuitan ketidaksukaan Trump pada media tersebut mendapatkan 875 ribu retweet dan 2,4 juta like.

Lima media yang menjadi target utama serangan Trump selama kampanye adalah:

1. The New York Times yang disebutnya media gagal dan tidak jujur. Terdapat 53 cuitan tentang NYT.

2. Fox New yang menurutnya tidak adil dalam membuat laporan dengan 46 cuitan.

3. The Wall Street Journal dengan 23 serangan.

4. Politico yang dianggapnya tidak memiliki kredibilitas serta tidak jujur dengan 17 serangan.

5. Dan tentunya, CNN dengan 52 cuitan.

Kampanye antimedia Trump saat itu dapat dibagi menjadi beberapa kategori. Sebagian besar cuitannya merupakan serangan balik atas laporan tertentu yang dianggap merugikannya.

Ada juga cuitan yang menyerang musuh lama, seperti pemilik New York Daily News Mort Zuckerman, yang berulangkali disebut Trump sebagai “pecandu” dan “orang picik”. Sisanya merupakan keluhan tentang laporan bias sejumlah media, termasuk CNN.

Terbaru
Amerika