Amerika

Operasi militer Afghanistan, uang Amerika menguap ratusan juta dolar

5.8K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
18:42
01 AGS 2017
Dok. Menteri Pertahanan Amerika Serikat James Mattis saat mengunjungi Afghanistan.
Editor
Abdullatif Assalam
Sumber
Aljazeera

Laporan tiga bulanan yang dirilis Special Inspector General for Afghanistan (SIGAR) menunjukkan, uang ratusan juta dolar yang digelontorkan pemerintah Amerika Serikat untuk mendukung operasi militer di Afghanistan menguap tanpa hasil nyata. Sebaliknya, produksi opium di negara tersebut justru meningkat dua kali lipat hanya dalam setahun.

AS telah menghabiskan dana lebih dari US$714 miliar atau setara Rp9.513 triliun dalam 15 tahun untuk mendukung pemerintah Afghanistan meningkatkan kemampuan pasukan bersenjatanya dan membangun infrastruktur. Tapi, budaya korupsi dan minimnya pengawasan membuat hasilnya hampir tidak kelihatan.

Menurut SIGAR, perbandingan antara daerah yang dikuasai pasukan AS dan Afghanistan dengan kelompok bersenjata tidak mengalami perubahan sejak 2016. Pemerintah Afghanistan menguasai 60 persen distrik di seluruh negara tersebut, sementara Taliban dan kelompok lain menduduki sisanya.

Jumlah aksi pengeboman dan pertempuran antara pasukan pemerintah dan kelompok bersenjata juga meningkat selama periode Maret-Mei. “Dari 1 Maret sampai 31 Mei 2017, PBB mencatat ada 6.252 insiden keamanan, meningkat 21 persen dari kuartal sebelumnya,” sebut SIGAR dalam laporannya, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (01/08/2017).

“Terdapat 2.531 pasukan (Afghanistan) yang tewas pada periode 1 Januari 2017 hingga 8 Mei 2017, dan 4.238 lainnya terluka.”

Sementara itu, nilai produksi opium di Afghanistan meningkat jadi US$3,02 miliar pada 2016 dari sebelumnya US$1,56 miliar pada 2015.

“Meski ... program (pemerintah AS) ditujukan untuk membantu Pasukan Keamanan dan Pertahanan Nasional Afghanistan, hampir mustahil untuk menilai hasil dari dana US$457,7 juta yang digelontorkan untuk program-program tersebut,” lanjut laporan tersebut.

Pada 13 Juni 2017, Menteri Pertahanan AS James Mattis mengatakan kepada komite pasukan bersenjata Senat bahwa AS “saat ini tidak dalam posisi menang di Afghanistan, dan kami akan memperbaikinya sesegera mungkin.”

Mattis diperkirakan akan menjabarkan “strategi baru” pemerintahan Donald Trump di Afghanistan, Pakistan, dan India dalam beberapa hari ke depan. Strategi tersebut, menurut sejumlah laporan, mengindikasikan pengiriman lebih banyak tentara ke Afghanistan sebagai penasihat dan pelatih untuk pasukan bersenjata lokal.

Namun, seorang pejabat Departemen Pertahanan AS, yang tak ingin disebut namanya karena tidak berhak berbicara kepada media, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa strategi baru itu bisa saja mengurangi jumlah pasukan di Afghanistan.

“Pemerintah belum menentukan apakah akan menambah jumlah pasukan di Afghanistan atau justru menguranginya,” katanya.

Namun yang jelas, strategi baru tersebut akan membuat AS melakukan pendekatan yang berbeda dengan Pakistan.

“Pakistan mungkin akan merasakan pendekatan yang lebih keras dari pemerintahan Trump yang akan memaksa mereka menghentikan praktek yang melindungi elemen pemberontak di wilayah mereka,” tambahnya.

Terbaru
Amerika