Asia

Kisah pemerkosaan dan pembunuhan Muslim Rohingya

6.6K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
19:01
19 JUL 2017
Dok. Aksi bela Muslim Rohingya oleh aktivis Gema Pembebasan.
Editor
Abdullatif Assalam
Sumber
Rimanews

Rimanews - Saat wartawan asing melewati sebuah jembatan bambu, seorang wanita muda Rohingya berpakaian hitam, berpayung hitam, mengangkat tangannya dengan ragu-ragu.

Sikapnya menunjukkan dia berada dalam keadaan kosong dan ketakutan.

Namun, gadis itu tampaknya ingin mengatakan sesuatu kepada rombongan wartawan asing.

Sebuah laporan mengatakan, pelanggaran hak asasi manusia (HAM) secara sistematis terhadap Muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar, termasuk dalam kategori genosida.

"Orang-orang Rakhine datang dan mengarahkan senapan ke dahiku. Mereka memegang tanganku dengan kuat dan melakukan apa yang mereka inginkan," katanya, seperti dikutip dari Australia Plus, Rabu (19/07/2017).

"Kemudian mereka mengusir saya. Tapi tidak saya lakukan. Saya duduk di sana, lalu mereka mulai memukul dan melepaskan pakaian saya," kata gadis yang baru berusia 18 tahun itu.

"Mereka memukuli saya terus menerus dan melakukan apa yang mereka inginkan. Militer melakukan semua ini," ucapnya.

Pemerintah Myanmar mengorganisir kunjungan wartawan asing ke negara bagian Rakhine utara, di sebelah barat Myanmar.

Sebelumnya, pemerintah Myanmar memblokade wilayah tersebut dari dunia luar sejak beberapa pos polisi diserang Oktober tahun lalu, menewaskan sembilan petugas dan mencuri puluhan senjata.

Myanmar kemudian mengirim pasukan untuk melakukan operasi yang disebut PBB sebagai "pembersihan etnis" Muslim Rohingya.

Sekitar 70 ribu Muslim Rohingya yang melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh menceritakan kekejaman tentara.

Kota Maundaw diduga merupakan satu dari beberapa lokasi terjadinya kekerasan terburuk tahun lalu yang dilakukan tentara dan polisi.

Kapanpun bila memungkinkan, wartawan meminta polisi bersenjata lengkap tidak mendengarkan isi wawancara dengan warga.

Dan ketika hal itu dilakukan, selalu muncul tuduhan baru.

"Mereka datang ke desa ini dan membakar ayah saya (hidup-hidup) di dalam rumah dan memenjarakan ibu saya (ketika dia memprotes)," kata seorang wanita, yang tidak disebutkan namanya.

Dua kunjungan yang diatur pemerintah untuk wartawan lokal sebelumnya telah mengunjungi negara bagian Rakhine utara.

Saat itu, setiap orang yang berbicara dengan pers diketahui dibunuh oleh penyerang tidak dikenal.

Myanmar adalah negara mayoritas Buddha dengan lebih dari 130 kelompok etnis yang diakui.

Situasi pengungsi Rohingya di Myanmar, kelompok minoritas Muslim yang dianggap tidak memiliki kewarganegaraan di tanah air mereka dan ditahan di negara-negara transit, sangatlah suram.

Sebagian besar orang Myanmar menganggap Rohingya sebagai imigran gelap dari negara tetangga Bangladesh, menyebut mereka "orang Bengali" atau lebih buruk lagi, "kalas".

Banyak yang telah hidup di Myanmar selama beberapa generasi, namun mereka berada di bawah kondisi apartheid, tidak dapat meninggalkan desa tanpa izin, mendapatkan pekerjaan formal maupun kuliah di universitas.

Dengan latar belakang ini, muncul sebuah pemberontakan baru yang menyebut dirinya Harakah al-Yaqin atau Faith Movement.

Diperkirakan gerakan ini akan dipimpin dan didanai Arab Saudi.

Tentara dan polisi penjaga perbatasan menyangkal hampir semua tuduhan pelanggaran HAM.

Brigadir Jenderal Polisi Thura San Lwin mengatakan bahwa orang Rohingya saling membunuh dan saling membakar rumah mereka sendiri.

Menteri Utama Negara Bagian Rakhine, U Nyi Bu, menolak tuduhan dari Perdana Menteri Malaysia Najib Razak bahwa Myanmar melakukan genosida.

"Ini bukan genosida. Yang kami lakukan hanya meninggalkan luka ringan," katanya.

"Jika orang menganggap ini masalah besar, mereka salah," tambah U Nyi Bu.

Konflik antara umat Budha dan warga Rohingya terjadi sejak beberapa dasawarsa lalu, dengan ledakan kekerasan komunal yang sporadis.

Pada 2012, bentrokan menyebabkan ribuan orang Rohingya melarikan diri dari ibu kota negara bagian Sittwe dan mencari tempat berlindung dalam kamp sementara.

Lima tahun kemudian, mereka masih bergantung pada bantuan pangan. Namun, kekurangan gizi menjadi pemandangan umum ditambah dengan kurangnya layanan medis.

Tidak ada jawaban yang mudah, dan kedua belah pihak berkutat dalam ketidakpercayaan dan prasangka.

Setelah Pemilu 2015, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi menjadi pemimpin de facto negara tersebut. Namun, nasib Muslim Rohingya tidak berubah sama sekali.

Suu Kyi dikritik karena tidak vokal membela hak-hak orang Rohingya, sebagaimana dulu dia memperjuangkan demokrasi di negaranya.

Suu Kyi tampaknya lebih khawatir kehilangan dukungan dari berbagai kelompok etnis yang hanya memiliki satu alasan untuk bersatu, ketidaksukaan mereka terhadap orang Bengali.

Sebuah komisi khusus yang dipimpin mantan Sekjen PBB Kofi Annan telah membuat rekomendasi sementara, termasuk seruan untuk akses tanpa hambatan bagi pekerja bantuan dan media.

Sebuah resolusi PBB untuk meluncurkan misi pencarian fakta ke Rakhine telah diblokir oleh pemerintah Myanmar, dengan mengatakan bahwa hal itu akan menjadi langkah provokatif.

Dengan akhir yang belum terlihat, pembunuhan rahasia dan penyangkalan masih akan terus berlanjut, menjadikan risiko pemberontakan menjadi lebih kuat.

KATA KUNCI : , , , ,
Terbaru
Asia