Timur Tengah

Krisis diplomatik bisa buat Qatar dan Iran semakin mesra

4.9K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
10:26
07 JUN 2017
Editor
Abdullatif Assalam
Sumber
Rimanews

Rimanews - Secara hampir bersamaan, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Bahrain mengeluarkan pernyataan yang intinya memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar karena dianggap mendukung kelompok teroris dan berperan menimbulkan konflik di kawasan Timur Tengah. Tak berselang lama, Libya, Maladewa, dan Yaman ikut-ikutan memutuskan hubungan dengan Qatar.

Keputusan ini dapat memberikan dampak luas di kawasan Timur Tengah. Selain menjadi rumah bagi kantor berita yang cukup populer di dunia, Al Jazeera, Komando Sentral Amerika Serikat juga bermarkas di Qatar. Namun saat ini, masyarakat Qatar lah yang paling merasakan dampak pemutusan hubungan diplomatik oleh ketujuh negara tersebut.

Setelah Saudi, UEA, Mesir, dan Bahrain, mengumumkan penutupan jalur darat, laut, dan udara ke Qatar pada Senin (05/06/2017), barang-barang di supermarket, terutama makanan, ludes diburu masyarakat. Masyarakat Qatar membeli makanan dalam jumlah banyak untuk mengantisipasi kelangkaan yang sangat mungkin terjadi akibat blokade.

Meski kaya minyak, Qatar adalah negara kecil yang memiliki luas hanya 11.586 kilometer persegi, dan sebagian besar wilayahnya adalah padang pasir yang tidak dapat digunakan untuk bercocok tanam. "Qatar mendapatkan 99 persen makanannya dari luar," kata Theodore Karasik, penasihat senior Gulf State Analytics di Washington, dikutip dari The Washington Post. "Mereka sangat bergantung pada suplai dari luar negeri, terutama bahan makanan. Makannya terjadi aksi borong di Doha hari ini."

Karasik menambahkan, meski sebagian besar suplai makanan Qatar berasal dari Syam—Irak, Lebanon, Yordania, Suriah—tetap saja harus melalui jalur darat untuk dapat masuk. Dan, Arab Saudi menjadi satu-satunya pintu masuk menuju Qatar di darat. "99 persen dari 99 persen (suplai bahan pokok Qatar) masuk lewat darat," kata Karasik.

Supermarket di Qatar selalu ramai karena bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Tapi menurut laporan Doha News, keramaian yang terjadi pada Senin jauh lebih besar dari biasanya. "Saya tak pernah melihat situasi seperti ini sebelumnya, masyarakat mendorong trolley yang penuh makanan dan minuman," kata seorang warga kepada Doha News.

Dampak sebenarnya dari blokade terhadap Qatar mungkin belum akan terlihat dalam waktu dekat, tapi Al Jazeera melaporkan bahwa truk pembawa suplai bahan pokok tidak diizinkan masuk oleh otoritas Arab Saudi. Pemerintah Qatar mencoba membuat masyarakat tenang dengan mengatakan: "Kami melakukan berbagai tindakan pencegahan yang diperlukan untuk memastikan kehidupan kembali berjalan normal."

Masalah pasokan makanan sudah menjadi isu yang cukup lama diperbincangkan di negara-negara Teluk, yang kebanyakan mengimpor 90 persen bahan pokok. Sejumlah negara Teluk berupaya menjalin kerja sama dengan negara lain untuk meminjamkan tanah mereka untuk ditanami makanan, seperti yang dilakukan Qatar dan Kenya 10 tahun lalu. Kenya meminjamkan 40 ribu hektare tanah kepada Qatar, dan sebagai gantinya mendapatkan pinjaman sebesar US$ 2,5 miliar atau setara Rp33,26 triliun. Karasik mengatakan, saat itu, Qatar diperkirakan memiliki persediaan makanan yang hanya tahan selama tiga hari jika tiba-tiba terjadi krisis.

Jika tidak ingin berdamai dengan Arab Saudi dan pengikutnya, Qatar harus mencari alternatif, dan Iran sudah menawarkan hal tersebut. Menurut kantor berita Iran, Fars News Agency, seorang pejabat Iran mengatakan, Teheran bisa saja mengekspor makanan ke Doha. Reza Nourani, ketua Serikat Eksportir Hasil Pertanian Iran menambahkan, pengiriman makanan ke Qatar dapat dipersiapkan hanya dalam waktu 12 jam.

Analis berkebangsaan Iran-Amerika, Holly Dagres, mengatakan di Twitter: "Bukannya menjauhkan Qatar dari Iran, krisis ini justru membuat mereka semakin mesra."

Timur Tengah