Timur Tengah

Selama Ramadhan, koalisi AS bunuh hampir 500 warga sipil di Suriah

12.8K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:31
24 JUN 2017
Dok. Relawan mengevakuasi korban serangan udara di Suriah.
Editor
Abdullatif Assalam
Sumber
Telegraph

Rimanews - Selama Ramadhan, Amerika Serikat dan sekutunya membunuh hampir 500 warga sipil di Suriah dengan dalih memerangi militan ISIS.

Dari 470 warga sipil yang terbunuh dalam serangan udara koalisi AS di Suriah antara 23 Mei dan 23 Juni, 137 di antaranya adalah anak-anak. Kebanyakan korban tewas berasal dari Raqqa dan Deir Al Zour yang diklaim dikuasai ISIS.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang bermarkas di Inggris mengatakan, jumlah korban sipil selama Ramadhan merupakan yang tertinggi sejak koalisi AS memulai operasi serangan udara di Suriah pada 23 September 2014. Angka tersebut meningkat hampir dua kali lipat dari bulan sebelumnya.

Menurut kelompok monitor, jumlah korban sipil yang terbunuh oleh koalisi AS lebih banyak daripada akibat serangan udara Rusia, kebrutalan ISIS maupun kekejaman pasukan Bashar Al Assad dalam sebulan terakhir.

Direktur SOHR Rami Abdel Rahman mengatakan, sejak melancarkan serangan udara di Suriah, koalisi AS telah membunuh 1.953 warga sipil, termasuk 456 anak-anak dan 333 perempuan.

Sejumlah kelompok HAM dan monitor telah memperingatkan selama berbulan-bulan akan risiko tingginya korban sipil dalam serangan udara koalisi AS, terutama ketika pertempuran di Raqqa meningkat.

AS, Australia, Denmark, Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, dan Yordania melancarkan serangan udara di Suriah untuk membantu Syrian Democratic Forces (SDF) yang melakukan pertempuran di darat. Mereka mengklaim, sudah mengambil segala tindakan yang dibutuhkan untuk menghindari korban sipil. Namun, warga mengatakan, kemungkinan mereka ikut menjadi sasaran serangan udara semakin meningkat.

Maret lalu, lebih dari 200 warga sipil yang kebanyakan perempuan dan anak-anak dilaporkan tewas dalam serangan udara koalisi AS ketika berlindung di sebuah bangunan bekas sekolah di desa Mansoura.

Tingginya korban sipil dalam serangan udara koalisi AS juga terjadi di Mosul, yang diklaim sebagai basis kekuatan terakhir ISIS di Irak. Salah satu kebrutalan koalisi AS terjadi pada 17 Maret, ketika ratusan warga sipil tewas setelah bangunan yang mereka jadikan tempat berlindung dihantam bom seberat 226 kilogram.

Terbaru
Timur Tengah