Timur Tengah

Saudi ngotot tuntutannya kepada Qatar harus dipenuhi

13.1K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
19:01
28 JUN 2017
Editor
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Antara

Rimanews - Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir menegaskan tuntutan mereka dan sekutunya terhadap Qatar tidak bisa ditawar-tawar.

Kerajaan Arab Saudi menuding Qatar mendukung sejumlah organisasi yang diklaim sebagai teroris seperti Hamas dan Ikhwanul Muslimin. Ketika ditanya para wartawan saat ia berkunjung ke Washington, soal apakah tuntutan tidak bisa ditawar, Jubeir mengatakan, "Ya."

"Kami telah memastikan, kami sudah mengambil langkah-langkah kami dan terserah (pemerintah Qatar) apakah mereka akan mengubah perilaku mereka dan jika mereka melakukannya, semuanya akan berjalan tapi jika tidak, mereka akan tetap dikucilkan," kata Jubeir saat ditanya sejumlah wartawan di Washington AS, Selasa (27/06/2017).

Jika Qatar ingin kembali ke lingkaran Dewan Kerja Sama Teluk, "mereka (pemerintah Qatar, red) tahu apa yang harus mereka lakukan," tegasnya.

Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir dan Bahrain pada 5 Juni memutuskan hubungan dengan Qatar atas tuduhan bahwa negara itu mendukung milisi-milisi Islamis.
Sejak memutuskan hubungan, keempat negara itu mengeluarkan 13 tuntutan, termasuk penutupan stasiun televisi Al Jazeera, pengekangan hubungan dengan Iran, penutupan pangkalan Turki dan agar membayar kerugian.
Qatar membantah berbagai tuduhan dan mengatakan tuntutan-tuntutan itu diarahkan untuk mengendalikan kedaulatannya.

Jerman serukan perdamaian

Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabril, kemarin, menyeru semua pihak yang terkait dalam krisis Qatar untuk melakukan pembicaraan langsung guna menghindarkan peningkatan ketegangan.

Jerman juga mendesak Iran untuk memainkan peranan yang membangun.

"Semakin lama krisis Qatar berlangsung, konflik akan semakin dalam dan mengeras," kata Gabriel kepada para wartawan setelah selama 90 menit melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif.

"Kami berharap pembicaraan secara langsung akan segera terwujud di antara semua pihak yang terkait karena peningkatan krisis tidak akan menguntungkan siapa pun."

Gabriel mengatakan perjanjian tahun 2015, yaitu ketika negara-negara besar mencabut sanksi internasional terhadap Iran --sebagai imbalan atas kesediaan Teheran mengendalian program nuklirnya-- telah membantu mengendalikan kemungkinan konflik militer.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkritik perjanjian itu namun Gabriel mengatakan bahwa Jerman dan Eropa akan menentang upaya-upaya pembatalan kesepakatan tersebut.

Gabriel mengatakan Iran dan Jerman masih merupakan "dunia yang terpisah" terkait hak keberadaan Israel, yang disebutnya "tidak dapat diutak-atik". Namun, ia mengatakan bahwa dirinya dan Zarif telah mulai membahas masalah tersebut dan banyak masalah lainnya.

Menlu Jerman itu mengatakan Presiden Iran Hassan Rouhani sedang berupaya membuat Iran lebih menarik bagi para penanam modal asing. Upaya tersebut merupakan bagian dari tujuan untuk meningkatkan taraf hidup rakyat Iran.

Namun, ia mengatakan Iran sebetulnya juga bisa meningkatkan posisinya dengan membantu menurunkan ketegangan di kawasan.

Zarif mengatakan Iran tertarik untuk berupaya mencari penyelesaian politik dalam konflik dengan Qatar.

Qatar, tidak seperti negara-negara tetangga lainnya di kawasan Teluk, tetap menjalin hubungan baik dengan Teheran, dengan alasan bahwa "tekanan dan sanksi dan blokade" bukan merupakan jawaban.

Gabriel mengatakan ia melihat daftar tuntutan itu sebagai "titik awal perundingan, tapi bukan akhir".

Zarif mengundang Gabriel untuk berkunjung ke Iran di tengah dorongan oleh kedua negara untuk memperluas hubungan bisnis dan perdagangan.

Terbaru
Timur Tengah