Timur Tengah

Lima hal yang wajib Anda ketahui tentang Masjid Al Aqsa

9.6K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
19:27
24 JUL 2017
Dok. Masjid Kubah Batu di kompleks Masjid Al Aqsa di Kota Tua, Yerusalem, Palestina.
Reporter
Abdullatif Assalam
Sumber
Aljazeera

Rimanews - Beberapa pekan terakhir, demonstrasi dan konfrontasi antara pasukan Israel dan Muslim Palestina yang tinggal di wilayah pendudukan terjadi setiap hari.

Ketegangan di Kota Tua, Yerusalem Timur, Palestina, meningkat setelah pasukan Israel melarang Muslim masuk ke dalam kompleks Masjid Al Aqsa untuk pertama kalinya sejak 1969. Baku tembak mematikan antara warga Israel berkebangsaan Palestina dan pasukan Yahudi menjadi alasannya.

Baku tembak pada Jumat, 14 Juli, berakhir dengan kematian dua pasukan Israel dan tiga penembak Palestina. Israel lalu menutup kompleks Masjid Al Aqsa dan melarang Muslim melaksanakan ibadah salat Jumat pada hari itu. Mereka baru membukanya kembali pada Minggu dengan memberlakukan sejumlah aturan keamanan yang lebih ketat, di antaranya mensyaratkan semua jemaah masuk melalui metal detector dan menambah kamera pengintai.

Muslim Palestina merasa kebijakan ini hanya akal-akalan Israel untuk me-Yahudi-kan kota Yerusalem dan menolak masuk ke dalam kompleks Masjid Al Aqsa sebelum metal detector dan kamera pengintai dihapuskan. Mereka kompak menggelar salat di luar gerbang kompleks Masjid Al Aqsa dalam sepekan terakhir sebagai bentuk protes atas tindakan Israel.

Jumat, 21 Juli, ribuan Muslim Palestina menggelar ibadah salat Jumat di depan Lion’s Gate, salah satu pintu menuju Kota Tua, Yerusalem. Aksi yang awalnya berjalan damai menjadi ricuh setelah pasukan Israel memprovokasi jemaah dengan melakukan tindakan kekerasan yang menyebabkan puluhan orang terluka.

Sejauh ini, empat Muslim Palestina tewas ditembak di Yerusalem Timur dan Tepi Barat. Salah satunya meregang nyawa usai ditembak pemukim Yahudi.

Berikut beberapa alasan mengapa kompleks Masjid Al Aqsa selalu menjadi “titik panas” konflik Palestina-Israel yang sudah berlangsung selama hampir setengah abad, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.

Al Aqsa: Situs Warisan Dunia UNESCO

Masjid Al Aqsa adalah nama bangunan berkubah perak di dalam kompleks seluas 14 hektare yang dikenal Muslim sebagai Al Haram Al Sharif atau Tanah Suci yang Mulia dan Temple Mount bagi Yahudi. Kompleks tersebut berada di Kota Tua, Yerusalem, Palestina, yang telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh Organisasi Kebudayaan, Keilmuan, dan Pendidikan PBB (UNESCO) dan menjadi tempat penting bagi tiga agama samawi.

Israel sangat bernafsu menguasai Al Haram Al Sharif sejak menduduki Yerusalem Timur, termasuk Kota Tua, pada 1967. Namun, konflik tentang siapa yang lebih berhak atas tempat itu sudah berlangsung sebelum Israel ada, setelah kekhilafahan Utsmani yang menjadi penjaga perdamaian antar umat beragama di Palestina selama berabad-abad secara resmi runtuh pada 1924.

Pada 1947, PBB merancang rencana pemisahan Palestina menjadi dua negara, satu untuk Yahudi, yang sebagian besar imigran dari Eropa, dan sisanya untuk penduduk asli Palestina, baik Muslim maupun Kristen. Rencana tersebut kemudian berada di bawah pengawasan Inggris.

Berdasarkan rencana tersebut, negara Yahudi mendapatkan bagian 55 persen sementara penduduk Palestina hanya 45 persen. Keputusan pembagian itu bukan hanya tidak adil, tapi juga menjadi awal malapetaka bagi lebih dari setengah juta penduduk Palestina yang terusir dari tanah air mereka setelah Israel dideklarasikan.

Yerusalem, yang dianggap milik seluruh masyarakat dunia secara umum, karena menjadi tanah suci bagi tiga agama samawi, tidak menjadi bagian dari rencana tersebut dan diurus oleh PBB.

Perang Arab-Israel pecah pada 1948 setelah pendeklarasian Israel, yang mencaplok 78 persen tanah Palestina dan hanya menyisakan Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Gaza di bawah kendali pemerintah Mesir dan Yordania.

Pencurian tanah Palestina oleh Israel semakin intensif pada 1967 sehingga memicu terjadinya Perang Arab-Israel jilid dua, yang membuat Israel menduduki Yerusalem Timur, dan pada akhirnya menganeksasi seluruh Yerusalem, termasuk Kota Tua dan Al Aqsa.

Kekuasaan illegal Israel di Yerusalem Timur melanggar sejumlah prinsip hukum internasional, yang menyebutkan bahwa negara pendudukan tidak memiliki kedaulatan di wilayah yang mereka duduki. Namun, tidak ada yang berubah sama sekali meski seluruh dunia tahu pengendalian Israel atas Yerusalem Timur melanggar hukum internasional dan itu sudah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun.

Selama bertahun-tahun pula, pemerintah Israel tidak pernah mundur selangkah pun dari upaya me-Yahudi-kan Kota Tua, dan Yerusalem Timur secara keseluruhan. Pada 1980, Israel mengesahkan undang-undang yang menganggap Yerusalem sebagai ibu kota negara mereka, lagi-lagi secara terang-terangan melanggar hukum internasional.

Tak ada yang mengakui kekuasaan Israel atas Yerusalem, tapi juga tak ada satu negara pun yang berani melakukan tindakan nyata menentang hal tersebut, kecuali hanya kecaman dan kutukan.

Penduduk Palestina yang masih bertahan di Yerusalem, sekitar 400 ribu orang, hanya berstatus sebagai permanent resident, bukan warga negara. Dan sejak 1967, Israel diam-diam mendeportasi banyak penduduk Palestina dengan cara menetapkan syarat-syarat berat bagi mereka jika ingin mempertahankan status permanent resident tersebut.

Israel juga membangun sedikitnya 12 pemukiman ilegal khusus Yahudi di Yerusalem yang dihuni 200 ribu orang, sementara di saat bersamaan menolak izin bangunan warga Palestina dan menghancurkan rumah mereka dengan dalih dibangun tanpa izin.

Tempat suci ketiga Muslim

Bagi Muslim, Yerusalem adalah tempat suci ketiga setelah Mekah dan Madinah di Arab Saudi. Masjid Kubah Batu yang terdapat di dalam kompleks Masjid Al Aqsa dipercaya sebagai lokasi mi’raj Nabi Muhammad Saw ke langit untuk bertemu Allah.

Sementara Yahudi menduga kuil kuno mereka berada di kota tersebut, tepatnya di bawah kompleks Masjid Al Aqsa sehingga berupaya menggalinya. Hukum Yahudi dan para rabbi melarang umatnya masuk ke kompleks Masjid Al Aqsa dan berdoa di sana karena dianggap terlalu suci untuk dikunjungi. Tapi tetap saja, banyak orang-orang Yahudi yang memasuki kompleks tersebut, bahkan hingga ke Masjid Al Aqsa dengan kawalan pasukan Israel.

Western Wall, yang dikenal orang-orang Yahudi sebagai Tembok Ratapan, dipercaya umat Yahudi sebagai puing terakhir dari Bait Suci Kedua. Muslim menyebutnya sebagai Tembok Buraq, tembok yang digunakan Nabi Muhammad Saw untuk mengikat hewan surga yang membawanya ke langit saat peristiwa miraj.

Status quo

Sejak 1967, Yordania dan Israel sepakat Waqf, lembaga yang sudah mengelola Masjid Al Aqsa sejak 500 tahun lalu, tetap mengurusi masalah di dalam kompleks tersebut sementara pasukan Israel “menjaga” keamanan di luar kompleks. Non-Muslim diperbolehkan masuk ke kompleks Masjid Al Aqsa di waktu-waktu tertentu, tapi tidak boleh beribadah di dalamnya.

Namun, sejumlah gerakan seperti Temple Mount Faithful dan Temple Institute berusaha menghapus larangan masuk kompleks Masjid Al Aqsa yang diberlakukan pemerintah Israel. Mereka mendesak pembangunan Bait Suci Ketiga Yahudi di kompleks Masjid Al Aqsa.

Kelompok-kelompok semacam itu didirikan oleh pejabat Israel. Pemerintah Israel mengklaim ingin mempertahankan status quo.

Seperti disebutkan sebelumnya, pasukan Israel secara rutin mengawal pemukim Yahudi yang tinggal di Yerusalem masuk ke kompleks Masjid Al Aqsa sehingga menimbulkan kekhawatiran di tengah-tengah umat Muslim bahwa Israel berniat mengambil alih tempat tersebut.

Pada 1990, Temple Mount Faithful bersumpah akan meletakkan batu pertama pembangunan Bait Suci Ketiga untuk menggantikan Masjid Kubah Batu. Provokasi yang dilakukan Temple Mount Faithful menyebabkan kerusuhan dan pembunuhan 20 warga Palestina oleh pasukan Israel.

Tahun 2000, politisi Israel, Ariel Sharon, memasuki kompleks Masjid Al Aqsa dengan dikawal sekitar 1.000 pasukan. Dia dengan sengaja mengulangi klaim Israel atas kompleks tersebut menyusul negosiasi damai antara perdana menteri Israel saat itu Ehud Barak dengan Yasser Arafat membahas tentang pembagian Yerusalem. Tindakan Sharon itu memicu terjadinya Intifada kedua yang menewaskan lebih dari 3.000 orang Palestina.

Dan Mei lalu, kabinet Israel menggelar rapat mingguan mereka di terowongan yang terletak di bawah Masjid Al Aqsa untuk memperingati 50 tahun pendudukan Yerusalem Timur, yang mereka sebut “pembebasan dan penyatuan Yerusalem”. Hal ini jelas merupakan tindakan provokasi terhadap umat Muslim, bukan hanya di Palestina tapi juga seluruh dunia.

Israel, dengan berbagai cara, menghalang-halangi umat Muslim masuk ke kompleks Masjid Al Aqsa. Salah satu metode yang mereka gunakan adalah membangun tembok pemisah pada awal 2000 sehingga menyulitkan warga Palestina di Tepi Barat yang ingin beribadah di Masjid Al Aqsa.

Dari sekitar 3 juta warga Palestina di Tepi Barat, hanya sedikit yang dapat melakukan salat Jumat di Masjid Al Aqsa karena Israel memberlakukan syarat ketat, salah satunya batasan usia. Aturan tersebut membuat kepadatan, kadang berujung pada kerusuhan, terjadi di pos-pos pemeriksaan di Tepi Barat dan Yerusalem, karena puluhan ribu orang ingin beribadah di Masjid Al Aqsa.

Kebijakan pemerintah Israel meletakkan metal detector di gerbang menuju kompleks Masjid Al Aqsa merupakan pelanggaran kebebasan beribadah dan dipandang banyak orang sebagai salah satu upaya mereka untuk menguasai kompleks tersebut.

Ketegangan di Al Aqsa

Dalam dua tahun terakhir, ketegangan demi ketegangan terjadi antara pasukan Israel dan penduduk Palestina di dekat kompleks Masjid Al Aqsa. Pada 2015, bentrokan terjadi setelah ratusan umat Yahudi berusaha memasuki kompleks Masjid Al Aqsa untuk merayakan hari suci mereka.

Setahun kemudian, aksi protes terjadi setelah pemukim Yahudi memasuki kompleks Masjid Al Aqsa di 10 hari terakhir Ramadhan. Hal ini merupakan pelanggaran atas tradisi yang sudah berlangsung lama di Palestina.

Sebagian besar ketegangan yang terjadi di dekat kompleks Masjid Al Aqsa terjadi karena pemukim Yahudi berusaha beribadah di dalamnya, yang jelas-jelas melanggar status quo.

Dua pekan terakhir, pasukan Israel menembakkan senjata tajam, gas air mata, dan peluru karet ke arah demonstran Palestina yang memprotes kebijakan keamanan Israel di kompleks Masjid Al Aqsa, yang salah satunya melarang pria Muslim di bawah 50 tahun masuk.

Sejauh ini, Israel telah mengerahkan 3.000 polisi dan unit penjaga perbatasan ke sekitar kompleks Masjid Al Aqsa.

Umat Kristen ikut memprotes Israel

Kompleks Masjid Al Aqsa memang hanya bagian kecil dari Palestina, tapi menjadi simbol konflik antara Israel dan Palestina.

Meski Masjid Al Aqsa sangat penting bagi umat Muslim, khususnya, orang-orang Kristen Palestina juga ikut memprotes pencaplokan Israel. Mereka hadir saat umat Muslim melaksanakan ibadah salat Jumat di depan Lion’s Gate.

“Masalah Al Haram Al Sharif adalah simbol, tapi katalisator yang sangat kuat dari ketidakadilan dan penindasan yang secara rutin dihadapi warga Palestina di Yerusalem, dan hal itu menyebabkan letusan kemarahan dan pemberontakan yang terus berlanjut,” kata Yara Jalajel, mantan penasihat hukum menteri luar negeri Palestina, dikutip dari Al Jazeera.

Bentrokan di dekat kompleks Masjid Al Aqsa memicu sejumlah aksi protes lainnya di Tepi Barat dan Gaza.

Waqf menegaskan, semakin lama pemerintah Israel menghapus aturan keamanan ketat di kompleks Masjid Al Aqsa, maka kondisinya akan semakin buruk.

Timur Tengah