Hukum

LSM Kecam BNN Ikuti Gaya Duterte Dalam Tanggulangi Kasus Narkoba

5.5K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
18:45
09 SEP 2016
Dok: Gaya brutal Presiden Filipina dalam menghabisi nyawa pengedar narkoba.
Reporter
Andika Dwi Annur
Sumber
Rimanews

Rimanews - Sejumlah elemen masyarakat yang tergabung koalisi masyarakat sipil untuk penghapusan hukuman mati di ASEAN (CADPA) mengingatkan Presiden Joko Widodo untuk tidak meniru gaya Presiden Filipina Rodrigo Duterte dalam menanggulangi permasalahan narkoba.   

Koalisi ini mengutuk tindakan pembunuhan di luar peradilan (extra judicial killing) yang dilakukan presiden Duterte yang mengakibatkan lebih dari 3.000 orang menjadi korban hanya dalam kurun waktu sekitar dua bulan.

Direktur LBH Masyarkat Ricky Gunawan mengatakan, praktik yang dilakukan oleh Filipina bukan kali pertama di ASEAN. Di tahun 2003 Thailand sudah melakukan extrajudicial killing dengan istilah war on drugs

Selama 3 bulan, 8400 jiwa lebih meninggal. Namun, ternyata pada 2007 ada investigasi dan bahwa setengah dari 2800 jiwa yang terbunuh tidak berhubungan dengan narkotika.

"Dampak war on drugs bukan hanya Meksiko, tapi Guatemala, Venezuela, yang terjadi malah perebutan kekuasaan. Filipina jadi extrajudicial killing. Kami mengecam Rodrigo dan mengecam intensi indonesia seperti BNN bilang untuk ikut gaya Filipina," kata Ricky di Plaza Senayan, Jakarta, Jumat (9/9/2016).

Kemudian Ricky menjelaskan ada konsekuensi terkait war on drugs tersebut, salah satunya kesehatan. Pendekatan war on drugs represif mendorong pemakai narkotika untuk lebih tersembunyi terstigmatisasi dan terkucilkan. Penyakit yang akan ditimbulkan yakni HIV atau tuberkolosis.

"Justru meningkatkan resiko overdosis karena merasa tersingkir dari mata kita. Drug user dan offendet dalam lapas gak dapat drug treatment yang mencukupi," katanya.

Di sisi lain, Ricky mengungkapkan mengenai testimoni pegiat Kontras, Haris Azhar soal keterlibatan oknum polisi memang sudah menjadi rahasia umum. 

"Kalau kita kasih kewenangan polisi untuk langsung tembak mati bisa langsung tembak mati rivalnya. Jadi gabisa investigasi apakah emang bener-bener terlibat atau tidak,"katanya.

Oleh karena itu, praktik pembunuhan di luar peradilan bagi korban yang diduga terlibat narkotika, hanya akan membuat negara tidak aman.

"Di negara lain praktik brutal ini hanya melanggengkan kekerasan lebih jauh lagi. Negara ga akan makin aman. Negara lain akan melihat cara kita," tandasnya.

Terbaru
Hukum