Hukum

Patrialis sebut KPK cemarkan nama baiknya dengan tuduhan tanpa bukti

2K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
15:18
13 JUN 2017
Reporter
Ahmad Alfi Dimyati
Sumber
Rimanews

Rimanews -  Setelah mendengarkan JPU KPK membacakan Surat Dakwaan, Mantan Hakim Anggota MK, Patrialis Akbar menolak dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum KPK.

Selain itu Patrilis juga meminta Majelis Hakim Pengadilan Tipikor untuk mencatat keberatan yang disampaikannya untuk mempertimbangkan putusan dalam perkara suap uji materi UU No 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

"Beberapa catatan penting yang saya sampaikan ini mohon berkenan dicatat dalam berita acara dan dapat dipertimbangkan pula majelis yang mulia dalam mengambil putusan dalam perkara ini," ujar Patrialis di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (13/06).

Menurutnya, hingga detik ini, KPK tidak bisa membuktikan barang bukti terkait suap yang didakwakan kepadanya. Ia juga mempertanyakan tudingan KPK yang mengatakan penangkapan dirinya dilakukan bersama seorang wanita.

"Konpers pimpinan KPK, saya tertangkap tangan bersama seorang wanita di GI (Grand Indonesia) dan dengan dugaan barang bukti 20 ribu dolar AS dan 200 ribu dolar Singapura. Konferensi pers yang dilakukan Pimpinan KPK tidak fair, saya ditahan, mereka katakan saya ditangkap dengan wanita dan barang bukti. (Namun) sampai detik ini KPK tidak mampu menunjukkan barang bukti mana yang mereka katakan itu," keluhnya di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Jalan Bungur Raya, Selasa (13/06/2017).

"Sampai detik ini pernah gak KPK memperlihatkan barang bukti sebagaimana biasanya. Pernah gak? Gak ada kan. Makanya persidangan ini yang (akan) meng-clear-kan," ujarnya.

Sebelumnya, dalam konferensi pers di KPK saat itu Patrialis ditangkap di Grand Indonesia bersama seorang wanita muda dengan barang bukti sekitar SGD 20 ribu dan SGD 200 ribu. Patrialis mengatakan pernyataan pimpinan KPK tidak pernah terbukti.

Lantaran konferensi pers yang menurut Patrialis Akbar merupakan fitnah tersebut, nama baiknya menjadi tercemar. Patrialis juga mengaku tak pernah menerima sepeser pun uang yang diberikan Basuki Hariman dan NG Fenny melalui Kamaludin.

"Ini suasana yang luar biasa sebagian media-media membuat berita dahsyat, penuh fitnah, ghibah, gunjing karena dari mereka. Saya bahkan (diberitakan) tertangkap di tiga tempat sekaligus (ada yang menyebutkan saya ditangkap) di tempat esek-esek, kos mewah dan Grand indonesia, ini cara terbaik menghancurkan karakter saya di depan publik," katanya.

Oleh karena itu, ia sangat keberatan dengan dakwaan yang disampaikan JPU KPK terhadap dirinya. Ia bahkan bersumpah tidak menerima uang sepeser pun dari Basuki dan Ng Fenny dengan sumpah demi langit dan bumi.

"Saya ingin mengatakan dakwaan JPU KPK, (bahwa) saya keberatan, sumpah demi Allah sampai ke Arsy (singgasana Alla, red) tidak pernah sekali pun, satu rupiah pun saya terima uang dari namanya Basuki Hariman dan Ng Fenny bahkan saat pertama kali ketemu Basuki Hariman saya sudah sampaikan tiga rambu-rambu: boleh kita berkawan, syarat kedua saudara tidak boleh sekalipun bicara uang dengan saya apalagi memberikan uang dan alhamdulilah mulai dari awal sampai detik ini tidak pernah Basuki Hariman bicara itu dan untuk hindari fitnah tidak boleh bawa tas apalagi dia seorang pendeta," ujarnya.

Adapun dugaan aliran uang yang mengalir ke Kamaludin dari Basuki dirinya mengaku tidak pernah dikonfirmasi dan mengkonfirmasi kabar pemberian uang tersebut.

"Jadi seluruh uraian penerimaan uang oleh Kamaludin dari Basuki saya tidak pernah dikonfirmasi sedikit pun baik oleh Basuki, Ng Fenny apalagi Kamaludin. Apalagi (dakwaan) dengan uang 2 miliar, saya sama sekali tidak tahu dan saya baru tahu suasana uang itu saat saya ditanya penyidik," tegasnya.

"Jangan kan US$ 70 ribu, satu sen pun tidak pernah Basuki Hariman, Ng Fenny ngasih saya uang. Apalagi US$ 70 ribu, apalagi 2 miliar, itu namanya mimpi," lanjutnya.

Tanggapan Jaksa

Menanggapi keberataan yang dilayangkan Patrialis, JPU KPK, Lie Setiawan memastikan tidak akan menanggapinya.

"Apakah penangkapan terkait dengan wanita, tidak kami tanggap. Terkait penerimaan uang Kamaludin, Basuki dan Ng Fenny, (sudah) masuk dalam materi perkara sehingga tidak kami tanggapi," ujarnya.

Sebagai informasi, Patrialis Akbar didakwa menerima hadiah US$ 70 ribu, sekitar Rp4 juta dan janji sebesar Rp2 miliar rupiah dari Basuki Hariman yang merupakan pemilik PT Impexindo Pratama, PT Cahaya Timur Utama, PT Cahaya Sakti Utama dan CV Sumber Laut Perkasa dan anak buahnya NG Fenny melalui Kamaludin.

Hadiah dan janji tersebut bertujuan untuk mempengaruhi putusan perkara Nomor 129/PUU-XIII/2015 terkait Uji Materi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan terhadap UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945.

"Setelah 1x24 jam saya baru diserahkan ke penyidik padahal kalau OTT tidak ada lagi 1x24 tapi diserahkan ke penyidik berikut barang bukti," jelasnya.

Sebagai penerima suap, Patrialis Akbar dan Kamaludin dijerat dengan Pasal 12 huruf c atau pasal 11 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Sementara itu, Basuki dan NG Fenny sebagai pemberi suap dijerat dengan Pasal 6 ayat 1 huruf a atau Paasal 13 UU No 31 tahun 1999 diubah dengan UU No 20 tahun ‎2001 jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

KATA KUNCI : , , , ,
Terbaru
Hukum