Hukum

KPK periksa Gamawan Fauzi sebagai saksi korupsi e-KTP

3.7K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
11:04
15 JUN 2017
Menteri Dalam Negeri 2009-2014 Gamawan Fauzi
Reporter
Ahmad Alfi Dimyati
Sumber
Rimanews

Rimanews - Penyidik KPK menjadwalkan pemeriksaan terhadap mantan Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi terkait perkara korupsi mega proyek e-KTP yang menjerat kementeriannya saat ia memimpin.

Gamawan sendiri rencananya akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Andi Agustinus alias Andi Narogong.

"Yang bersangkutan diperiksa untuk tersangka AA," ujar Juru Bicara KPK, Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Kamis (15/6/2017).

Sebagai pengingat dalam dakwaan Irman dan Sugiharto, Eks Menteri dari Partai Demokrat itu telah menerima uang sebesar US$ 4,5 juta, uang tersebut diberikan Andi Agustinus alias Andi Narogong melalui dua orang saudaranya di dua kesempatan berbeda untuk memuluskan tender dan penganggaran.

Pemberian pertama sebesar US$ 2 juta diberikan oleh Andi ke Afdal Noverman (adik Gamawan) dengan maksud agar pelelabgan proyek KTP-el tidak dibatalkan Gamawan. Selanjutnya pada Juni 2011, Andi Narogong memberikan uang US$2,5 juta kepada Gamawan melalui saudaranya, Azmin Aulia untuk memperlancar proses penetapan pemenang lelang.

Namun dugaan aliran tersebut telah dibantah oleh Adiknya dan Gamawan sendiri, menurut Afdal Noverman dan Asmin Aulia uang tersebut bukan lah uang suap melainkan uang hasil bisnis dengan salah satu direktur PT Sandipala Artha Putra, Paulus Tannos.

Sementara itu dalam kesaksiannya Gamawan juga membantah bahwa dirinya telah melakukan korupsi. Menurutnya saat ia mengalami sakit dan harus melakukan pengobatan di Singapura ia menerima pinjaman uang Rp 1 miliar dari adiknya, Afdal Noverman dan Asmin Aulia guna biaya pengobatan operasinya di Singapura.

"Saya waktu itu pinjam uang Rp 1 miliar buat operasi kanker di Singapura. Karena obatnya mahal, saya kehabisan uang," ujar Gamawan saat bersaksi di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, hari ini.

Dalam dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa KPK pada persidangan kemarin, disebutkan Gamawan menerima uang dari Afdal Noverman sebesar USD 2 juta yang berasal dari Andi Agustinus, alias Andi Narogong. Andi sendiri dalam dakwaan disebut sebagai penghubung antara Kemendagri, DPR dan Pengusaha.

Gamawan mengaku aliran uang itu merupakan uang pinjaman dari adiknya, bukan merupakan uang sogok, bahkan uang pinjaman yang masuk ke kantongnya. Itu juga sudah di laporkan ke LHKPN KPK.

Menanggapi pernyataan Gamawan, Jaksa Penuntut Umum dari KPK, Abdul Basir merasa heran dengan pengakuan Gamawan. Karena sebagai seorang menteri, Basir menganggap Gamawan pasti memiliki asuransi untuk kesehatan pribadi dan keluarga.

"Betul (punya asuransi). Tapi saya operasi di Singapura, asuransi saya tidak berlaku lintas negara, tidak berlaku di Singapura," Jawab Gamawan.

Dalam kasus ini andi diduga sebagai orang yang kuat mengatur proyek tender e-KTP. Selain itu ia juga disebut-sebut sebagai orang yang menggalang dan mengkordinir adanya kelompok Fatmawati.

Andi sendiri dijerat Pasal 2 ayat (1) atas Pasal 3 UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP dengan ancaman penjara maksimal 20 tahun denda paling banyak Rp 1 miliar.

Terbaru
Hukum