Hukum

KPK periksa Teguh Juwarno dan Taufik Effendi

3.7K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
13:09
10 JUL 2017
Reporter
Ahmad Alfi Dimyati
Sumber
Rimanews

Rimanews - Penyidik KPK kembali memanggil anggota DPR dari Fraksi PAN Teguh Juwarno dan mantan anggota DPR dari Fraksi Demokrat Taufik Effendi dalam pengusutan kasus dugaan korupsi proyek pengadaan e-KTP yang telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 5,9 Triliun.

"Keduanya diperiksa sebagai saksi untuk tersangka AA (Andi Agustinus)," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Senin (10/7/2017).

Febri menyebutkan bahwa pemanggilan kembali Teguh dan Taufik ini untuk menelusuri aliran dana proyek e-KTP yang diduga masuk ke kantong pribadi sejumlah pihak hingga proses pembahasan anggaran proyek tersebut. 

"Para saksi di butuhkan keterangannya yang berkisar tentang pengetahuannya pada kasus e-KTP, indikasi aliran dana pada sejumlah pihak, pertemuan-pertemuan atau proses pembahasan anggaran dan pengadaan e-KTP," tuturnya. 

Dari pantauan Rimanews terlihat Teguh mengenakan kemeja batik warna coklat sementara Taufik menggunakan jas hitam.

Saat protek e-KTP bergulir Teguh dan Taufik sama-sama duduk sebagai anggota Komisi II DPR. Dalam dakwaan jaksa penuntut umum KPK menyebutkan bahwa Teguh menerima duit sebesar US$ 167 ribu, sementara Taufiq menerima duit sebesar US$ 103 ribu.

Sementara saat dipersidangan keduanya juga telah membantah bahwa mereka menerima duit e-KTP.

"Tidak pernah (tidak dapat duit), Yakin (gak dapat duit), Saya tidak tahu (tidak tahu bagi-bagi soal bagi - bagi duit)," ujar Taufik.

Sementara itu Teguh Juwarno juga juga mengaku tidak pernah menerima dan tidak mengetahui bagi-bagi duit," saya tidak pernah, terkait e-KTP saya tidak tahu," ujarnya.

Dalam kasus ini KPK telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka kasus dugaan korupsi e-KTP.

Ketiganya yakni Pejabat di Kementerian Dalam Negeri, Irman, Sugiharto dan pengusaha Andi Agustinus. 

Untuk Irman dan Sugiharto sendiri saat ini sidangnya sudah masuk dalam Pledoi. Dimana mereka sebelumnya dituntut masing-masing tujuh dan lima tahun penjara oleh jaksa penuntut umum.

Selain itu Irman juga dikenai pidana tambahan dengan membayar uang pengganti sebesar US$ 273.700, Sin$ 6.000, dan Rp 2,4 miliar. Sementara Sugiharto dikenai pidana tambahan dengan membayar uang pengganti sebesar Rp 500 juta.

Untuk Andi Narogong sendiri saat ini berkasnya masih dalam tahap penyidikan. 

Terbaru
Hukum