Hukum

Dalami keterlibatan politisi Golkar dalam skandal e-KTP, KPK periksa adik Andi Narogong

3.9K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
12:59
12 JUL 2017
Politisi Golkar tersangka korupsi e-KTP, Markus Nari
Reporter
Ahmad Alfi Dimyati
Sumber
Rimanews

Rimanews - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)‎ kembali menjadwalkan pemeriksaan terhadap Vidi Gunawan, adik dari inisiator kelompok Fatmawati Andi Agustinus alias Andi Narogong. Vidi diduga ikut menghalang-halangi penyidikan dan persidangan perkara korupsi ‎proyek e-KTP untuk tersangka Markus Nari.

"Vidi Gunawan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka MN (Markus Nari)," ujar Juru Bicara KPK, Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Rabu (12/07/2017).

Pada persidangan sebelumnya, Vidi Gunawan mengakui pernah membagikan uang kepada pejabat Kemendagri yang kini menjadi terdakwa kasus korupsi e-KTP, Sugiharto melalui anak buah Sugiharto, Yosep Sumartono.

"Benar yang mulia, ngasihnya empat kali kepada suruhannya pak Giarto (Sugiharto), Pak Yosep Sumartono," katanya.

Menurut Vidi, pemberian uang itu atas perintah kakaknya Andi narogong. Pada pemberian pertama, uang dimasukan ke dalam sebuah tas koper. "Tidak hitung, tidak tahu berapa isinya, pokoknya 500, yang tahu kakak saya, tanyakan ke kakak saya langsung saja yang mulia," katanya.

Mendengar jawaban tersebut, Ketua Majelis Hakim, John Halasan Butar Butar menanyakan kepada saksi. "Itu 500 apa, US$ 500 ribu apa 500 rupiah atau 500 ribu rupiah," tanyanya.

Mendengar pertanyaan  tersebut Vidi menjawab bahwa uang 500 ribu itu dalam bentuk dolar.

Vidi mengatakan, pemberian tersebut dilakukan di Holland Bakery Kampung Melayu, Pom Bensin Bangka Raya dan terakhir di Pom Bensin Auri.

Saat ditanya Ketua Majelis hakim dari mana asal muasal duit sebanyak itu, ia mengaku tidak mengetahuinya,. "Kalau masalah uang, kakak saya kurang terbuka," kata dia.

Mendengar jawaban tersebut, Ketua Majelis Hakim John Halasan Butar Butar merasa aneh. Sebagai adik, tentunya Vidi tahu darimana asal muasal uang tersebut.

John kembali menanyakan perihal pekerjaan Andi Narogong hingga memiliki uang begitu banyak dan dibagi-bagikan ke orang.

"Saya tidak tahu dari mana duitnya, kerjanya coblos-coblos kaos, menerima pesanan sablon yang mulia," kata dia.

Hal tersebut dipertegas oleh Andi Narogong, menurutnya ia memberikan uang hingga mencapai US$ 1,5 juta kepada Irman melalui Sugiharto guna memuluskan proyek proyek tersebut.

"2011 Februari saya diminta datang ke ruangan Pak Sugiharto dan diantar ke ruang Pak Irman dan Pak Irman meminta bantuan sejumlah uang untuk biaya operasional, saya menyanggupi," kata Andi Narogong.

Andi Narogong menjelaskan, dirinya memberikan duit tersebut melalui adiknya Vidi Gunawan, sementara Irman dan Sugiharto menerimanya melalui orang kepercayaan mereka, yakni Yosep Sumartono.

 

"Saya berikan melalui pak Sugiharto US$ 500 ribu di Cibubur kemudian US$ 400 ribu di Holand Bakery kampung Melayu bulan Maret, kemudian US$ 400 ribu di SPBU Bangka Kemang bulan Maret juga kemudian US$ 200 ribu di pom bensin AURI bulan April," Jelasnya.

Andi Narogong mengatakan, maksud dan tujuannya memberikan uang tersebut kepada Irman yakni supaya siapa pun pemenang proyek e-KTP, ia bisa menjadi sub-kontraktornya.

"(Harapannya) Siapa pun pemenang proyek e-KTP, saya bisa mendapatkan pekerjaan sub-suban yang direkomendasi oleh pak Irman," ujarnya.

Sebagai informasi, Politisi Golkar, Markus Nari ditetapkan sebagai tersangka dugaan upaya menghalang-halangi penyidikan dan penuntutan perkara korupsi e-KTP.

Diduga Markus Nari menekan mantan Anggota Komisi II DPR, Miryam‎ Haryani, supaya memberikan keterangan tidak benar pada persidangan. Selain itu, Markus juga diduga mempengaruhi terdakwa Irman dan Sugiharto pada persidangan perkara korupsi e-KTP.

Atas perbuatannya, Markus disangkakan melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana ‎Korupsi (Tipikor) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

Terbaru
Hukum