Hukum

Terdakwa korupsi e-KTP menangis saat baca pledoi

5.7K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
18:08
12 JUL 2017
Sugiharto
Reporter
Ahmad Alfi Dimyati
Sumber
Rimanews

Rimanews - Terdakwa mega korupsi e-KTP, Sugiharto menangis saat membacakan nota pembelaan atau pledoi di hadapan Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Dia memohon kepada Majelis Hakim agar memberikan hukuman yang seringan-ringannya.

"Karena umur saya dan sekarang sedang sakit, mohon pada Majelis Hakim memberi hukuman yang seringan-ringannya, juga saya berterima kasih atas dikabulkannya judicial review," kata Sugiharto di Pengadilan Tipikor, Rabu (12/07/2017).

Sugiharto mengaku tidak pernah memiliki sedikitpun niat untuk korupsi dalam proyek e-KTP, namun siap menerima keputusan apapun dari hakim.

"Dengan kesadaran dan penyeselan mendalam saya serahkan pada Majelis Hakim untuk menilai. Semua putusan apapun akan saya terima dengan ikhlas," katanya, sambil menangis.

Suara Sugiharto semakin lirih ketika menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga yang harus ikut menanggung malu akibat perbuatannya.

"Saya berusaha meminta maaf pada istri saya dan anak-anak saya atas kejadian ini. Keluarga harus menanggung malu. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi kejadian seperti ini," ujarnya dengan suara bergetar.

Sugiharto mengatakan bahwa awalnya dirinya tidak bersedia menjabat sebagai pejabat pembuat komitmen (PPK) pada proyek e-KTP lantaran tugas tersebut sangat berat.

"Tugas PPK sangat berat. Pada awalnya, gak ada yang bersedia menjabat sebagai PPK. Pada akhirnya, saya yang ditunjuk Mendagri," ujarnya.

Selain itu, ia juga mengaku memberikan izin kepada Direktur Pendaftaran Penduduk Ditjen Dukcapil Drajat Isnu Setiawan untuk mwmbantunya

"Bahwa benar saya telah memberikan izin kepada Drajad Isnu Setiawan agar ketua tim teknis Husni Fahmi mendampinginya dan hal itu semata-mata hanya untuk perbaikan pelelangan e-KTP," kata Sugiharto.

Terkait perbedaan pendapat antara panitia PPK dan tim teknis ia juga mengaku telah menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada ketua panitia.

"Saya pernah ditelepon ketua panitia pengadaan barang dan jasa dan ketua tim teknis tentang POC. Dan saya jawab silahkan ketua ambil keputusan karena bagian dari tanggung jawab panitia pengadaan barang dan jasa dan tim teknis," ujarnya.

Terbaru
Hukum