Hukum

Terdakwa korupsi e-KTP minta dibebaskan dari uang pengganti

4.5K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
08:01
13 JUL 2017
Reporter
Ahmad Alfi Dimyati
Sumber
Rimanews

Rimanews - Terdakwa I Korupsi proyek e-KTP, Irman menyampaikan permohonan kepada Majelis hakim agar membebaskan dirinya dari uang pengganti terkait kasus yang menjeratnya.

"Saya mohon kiranya majelis hakim bisa bebaskan saya dari uang pengganti," ujarnya saat menyampaikan Nota pembelaan dihadapan majelis hakim pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta, Rabu (12/07).

Irman memohon demikian lantaran sebelumnya Jaksa KPK menuntutnya untuk mengembalikan uang sebesar Rp5,5 miliar dengan perincian US$273.700, Rp2.248.750.000 serta Sin$6.000.

Dalam kesempatan itu Irman menyampaikan bahwa dirinya tidak pernah menerima duit sebesar Rp1 milyar yang kemudian ditukarkan dengan duit dollar Singapura.

"Uang dari terdakwa II (Sugiharto) sejumlah Rp 1 M yang kemudian ditukarkan dalam satuan Sing$100 ribu oleh Josep itu saya tidak pernah terima,  Demi Allah saya gak pernah terima uang itu dari terdakwa II atau dari Joseph sumartono. Terdakwa 2 juga dlm persidangan gak pernah sampaikan uang itu pada saya," katanya.

Dalam pengakuannya, ia hanya menerima duit dua kali dari anak buahnya, Sugiharto, yang bersumber dari inisiator Kelompok Fatmawati yakni Andi Agustinus alias Andi Narogong.

"Uang dari Andi (Andi Narogong) sebesar US$300 ribu. Dalam hal ini secara jujur saya akui saya terima dari terdakwa II dan sudah  disetorkan ke rekening KPK pada 8 Februari 2017," ujarnya.

"Uang dari terdakwa II sejumlah US$200 ribu. Dalam hal ini secara jujur saya akui bahwa saya benar menerima uang dari Sugiarto. Namun, uang itu saya serahkan dan dikelola oleh Suciati untuk keperluan penalangan Tim supervisi e-KTP karena sangat diperlukan untuk membantu kelancaran dan suksesnya proyek e-KTP," lanjutnya.

Irman menjelaskan sebagian duit US$200 Ribu itu juga ia salurkan kepada mantan Sekjen Kemendagri, Diah Anggraini dan mantan Mendagri, Gamawan Fauzi sebanyak Rp1,3 miliar.

Sementara itu, untuk uang sebanyak US$ 73.300 dan Sin$ 6.000 dipakai untuk membiayai kegiatan operasional tim supervisi. 

Dari jumlah tersebut, masih terkait sisa uang sebesar Rp50 juta. Irman mengaku telah memakainya untuk keperluan pribadi. Namun, uang tersebut sudah diganti dengan menyerahkannya kepada rekening penampungan KPK.

"Dari keseluruhan uang yang dikelola Suciati Rp50 Juta sudah terpakai untuk keperluan pribadi saya dan saya sudah setorkan ke rekening KPK pada tanggal 14 desember 2016," ujarnya.

Oleh sebab itu, dengan memohon, ia pun meminta majelis hakim membebaskan dirinya dari uang pengganti.

"Jumlah uang yang saya setorkan telah sesuai dengan hasil pemeriksaan dan petunjuk dari penyidik KPK (yakni) Adam Manik dan Novel (Novel Baswedan) dan sudah sesuai dengan keterangan saksi," ujarnya.

Irman juga menyampaikan bahwa dirinya tidak memiliki niat dan kesengajaan sedikit pun untuk melakukan perbuatan tersebut. Oleh karena itu, ia dengan sangat meminta maaf kepada seluruh rakyat indonesia.

"Saya sampaikan bahwa tidak ada niat dan kesengajaan untuk melakukan perbuatan (korupsi itu), Perkenankan saya sampaikan maaf saya," ujarnya.

Sekadar informasi, dalam tuntutan Jaksa KPK, Irman di tuntut dengan penjara selama 7 tahun penjara dan diwajibkan membayar uang pengganti sebesar US$ 273.700, Rp2.298.750.000, dan Sin$6.000.

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
Hukum