Hukum

Mengaku sakit, Setnov tetap datangi pemeriksaan KPK

9.2K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
12:38
15 JUL 2017
Reporter
Ahmad Alfi Dimyati
Sumber
Rimanews

Rimanews - Ketua DPR RI Setya Novanto mengaku masih sakit saat memenuhi panggilan penyidik KPK sebagai saksi untuk Andi Narogong pada kasus korupsi proyek e-KTP, kemarin. Setnov memutuskan untuk tetap datang karena menghormati penegakan hukum.

Dari pantuan Rimanews.com, Setnov didampingi oleh Sekjen Partai Golkar, Idrus Marham dan Ketua DPP Partai Golkar Yahya Zaini.

Selain itu, Setnov juga sempat menyapa awak media yang telah menunggunya sejak pagi hari. 

"Saya masuk dulu ya, nanti-nanti (sambil tersenyum)", ujarnya di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Kuningan, Jakarta, Jumat (14/07/2017).

"Tadi kita dalam keadaan (Kesehatan) kurang fit, (Namun demi penegakan hukum), saya tetap memenuhi panggilan KPK untuk mempercepat penyelesaian kasus e-KTP. Di dalam memenuhi panggilan kan ini menyangkut masalah Agustinus, Andi Narogong. Materinya itu ya menyangkut masalah-masalah apa yang disampaikan Andi Narogong, yang mana sudah saya sampaikan seperti dalam fakta persidangan dan selebihnya nanti pihak penyidiklah (yang menyampaikan)," ujarnya.

Setnov melanjutkan, menurutnya sebagai warga negara yang menjunjung tinggi hukum tentu ia menyerahkan semua proses hukum kepada penegak hukum, dalam hal ini yakni KPK dan majelis hakim pengadilan Tipikor.

"Kita serahkan dan kita terima kasih semuanya telah berjalan, bahwa penyidikannya secara profesional, dan alhamdulillah semua pernyataan penyidik yg memiliki substansi dalam kasus ini telah saya jelaskan semua," ujarnya.

Sebelumnya, saat menjadi saksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Setnov membantah bahwa dirinya menerima aliran duit dari proyek e-KTP. "Tidak pernah, Yang Mulia," tuturnya.

Mendengar jawaban Setnov, ketua Majelis Hakim, John Halasan Butarbutar, menanyakan bagaimana jika ada pihak lain yang menyebutkan bahwa menerima uang. Selain itu, John mengingatkan bahwa saksi sudah mengucapkan sumpah untuk memberikan keterangan yang sebenar-benarnya.

"Tidak benar Yang Mulia (informasi dapat duit). (...) yakin (saya tidak terima), (...) sesuai sumpah saya," jawabnya.

Selain itu, Setnov juga mengaku tidak mengetahui program e-KTP secara mendetail lantaran waktu itu dirinya hanya mendapatkan laporan dari Ketua Komisi II DPR RI, Chairuman Harahap, dalam rapat pleno. 

"Saya tidak begitu ingat, tetapi itu dilaporkan dalam rapat pleno setiap bulan sekali, dilaporkan oleh pak Chairuman yang kebetulan juga dari partai Golkar. Yang saya ketahui dalam pleno, dilaporkan sepintas, hanya masalah yang berkaitan program e-KTP," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Program e-KTP merupakan program nasional dan harus dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku. Setnov juga mengatakan bahwa ia hanya bertemu dua kali dengan Andi Narogong. Pertemuan itu pun dilakukan di kafe milik anaknya.

"2009 saya di sebuah kafe. Kebetulan kafe itu milik saya; datanglah seorang yang mengenalkan diri ke saya sebagai Andi Narogong. Dia menawarkan  atribut partai," ujarnya.

Menurutnya, penawaran tersebut karena dirinya saat itu menjabat sebagai bendahara Partai Golkar. Di DPR, Setya menjabat ketua Fraksi Partai Golkar. 

"(Namun) setelah saya cek, disampaikan harganya terlalu mahal sehingga saya tolak tawaran tersebut," tambahnya.

Untuk pertemuan kedua, Andi kembali menawarkan atribut partai yang bahan dan alatnya dari Cina, sekali lagi Setnov mengatakan dirinya menolaknya.

"Ketemu dua kali. Pertemuan kedua dia menawarkan lagi., Harganya mahal, produk Cina, (Jadi) saya langsung tolak," katanya.

Sementara itu, Andi Narogong juga menegaskan kesaksian Setnov dan telah membantah keterangan terdakwa Irman dan Sugiharto yang mengaku pernah bertemu dengan Setya Novanto di beberapa tempat, untuk membahas proyek e-KTP.

Menurut Inisiator kelompok Fatmawati itu, ia hanya bertemu Setnov selama dua kali yang saat itu masih menjabat sebagai bendahara umum. 

Senada dengan Andi Narogong, Saksi kunci kasus e-KTP, Paulus Tannos melalui video teleconference di singapura juga mengaku dalam 2 kali pertemuan dengan Setya Novanto yang di gagas oleh Andi Narogong itu sia-sia.

Hal tersebut disebabkan Setya Novanto tidak mau berbicara bahkan terkesan menghindar saat dirinya menanyakan proyek e-KTP

Paulus Tannos bahkan mengaku kecewa dan menuding pengusaha kaos itu sebagai tukang catut nama Setnov, seolah-olah ia kenal dekat guna menakut-nakuti orang agar perusahaannya memenangkan tender e-KTP.

Terbaru
Hukum
Berita Terkait
18 November 2017 | 07:01
Pesan Jokowi kepada Setya Novanto