Hukum

Mantan Staff Ditjen Dukcapil mengaku tak kenal Setnov saat proyek e-KTP bergulir

8.9K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
18:03
25 JUL 2017
Reporter
Ahmad Alfi Dimyati
Sumber
Rimanews

Rimanews - Usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi untuk tersangka Ketua DPR RI, Setya Novanto di Gedung KPK terkait perkara dugaan korupsi proyek pengadaan e-KTP, Mantan Staff Direktorat Jenderal Dukcapil Kemendagri, Yosep Sumartono mengaku awalnya tidak mengenal Setya Novanto sebelum Politisi Golkar itu menjadi Ketua DPR.

"Saya enggak kenal dengan pak Setnov. Saya tahu (Kenal) pas dia (sudah) jadi Ketua DPR," ujar Yosep di Gedung KPK, Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (25/07/2017).

Selain itu, Yosep juga membantah bahwa dirinya merupakan orang yang membagikan uang kepada pejabat Kemendagri.

Menurutnya, ia hanya mematuhi perintah atasannya untuk mengambil sejumlah uang dari Andi Agustinus alias Andi Narogong.

"Bukan saya yang bagi. Yang bagi itu Pak Sugiharto. Saya hanya disuruh saja (mengambil uang), tidak ada apa-apanya. Saya enggak ada salah," katanya

Dalam kesempatan itu, Yosep menegaskan bahwa dirinya tidak pernah bertemu secara langsung dengan Andi Narogong saat dirinya diperintahkan mengambil duit haram proyek e-KTP.

"Enggak pernah (bertemu secara langsung dengan Andi Naorogong), jadi cuma ketemu Pak Vidi saja. Yang kenalin Pak Vidi, ya Pak Giharto," tambahnya

Sebelumnya, dalam persidangan Yosep juga mengaku hanya diperintahkan untuk mengambil titipan duit Sugiharto dari tangan Adik Andi Narogong, Vidi Gunawan.

"Mas, nanti tolong ambilin titipan, perintahnya di Cibubur. Saya jalan pakai ojek ke Cibubur Junction dari kantor saya di Kalibata," ujarnya saat bersaksi dalam sidang kasus dugaan megakorupsi proyek e-KTP di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (3/4). Ia menirukan perintah atasannya. 

Besaran uang yang diterima Yosep dari Vidi Gunawan yakni sebesar sebesar US$ 1.5 Juta. Adapun lokasi dan besarannya yakni di  mall Cibubur Junction sebesar US$ 500 ribu, Holland Bakery Kampung Melayu sebesar US$ 400 ribu. Kemudian di Pom Bensin Bangka Raya, sebesar US$ 400 ribu dan Pom bensin Auri sebesar US$ 200 ribu.

Senada dengan Yosep, saat bersaksi di pengadilan Tipikor, Andi Narogong juga mengaku pernah memerintahkan adiknya, Vidi Gunawan untuk memberikan duit ke Sugiharto melalui orang kepercayaan mereka yakni Yosep Sumartono.

"Saya berikan melalui pak Sugiharto US$ 500 ribu di Cibubur kemudian US$ 400 ribu di Holand Bakery Kampung Melayu bulan Maret, kemudian US$ 400 ribu di SPBU Bangka Kemang bulan Maret juga kemudian US$ 200 ribu di pom bensin AURI bulan April," jelasnya.

Sebagai informasi, dalam perkara ini dua mantan pejabat Ditjen Dukcapil Kemendagri Irman dan Sugiharto telah divonis masing-masing tujuh dan lima tahun penjara karena Majelis hakim menilai keduanya terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi e-KTP secara bersama-sama.

KPK juga menetapkan Andi Narogong sebagai tersangka ketiga. Andi diduga sebagai salah satu otak bancakan proyek senilai Rp 5,9 triliun. Dalam waktu dekat, Andi akan dibawa ke meja hijau oleh jaksa KPK. 

Setelah menetapkan Andi Narogong, KPK juga menjerat Setya Novanto. 

Sebelumnya nama Novanto santer di sebut dalam surat dakwaan dan tuntutan oleh Jaksa KPK, namun nama Setnov dalam surat putusan tidak disebutkan menerima duit dari proyek e-KTP.

Setelah menetapkan Setnov, KPK kembali menetapkan Politisi Golkar, Markus Nari sebagai tersangka korupsi e-KTP. 

Terbaru
Hukum