Politik

Ruhut dan Boni, Dulu dan Sekarang

29.3K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
05:02
14 NOV 2016
Dok.Boni Hargens dan Ruhut Sitompul.
Reporter
Zul Sikumbang
Sumber
Rimanews

Rimanews - Klise bahwa tak ada kawan dan lawan abadi dalam politik, antara lain terbukti dengan pernyataan Ruhut Sitompul tentang Susilo Bambang Yudhoyono baru-baru ini. Kader Demokrat yang menyempal dengan mendukung Ahok-Djarot di Pilkada DKI 2017 itu, dulu dikenal sebagai politisi yang selalu memuji-muji SBY.

Hampir apa saja yang dilakukan SBY semasa menjabat sebagai presiden, dan jadi isu pembicaraan di media, akan selalu dibela oleh Ruhut disertai sanjungan kepada SBY. SBY mengunjungi Riau untuk penanganan kabut asap, Ruhut menganggapnya sebagai negarawan. SBY menolak dana aspirasi, Ruhut menilainya sebagai sikap negarawan.

Di situs Partai Demokrat bahkan tercantum berita yang berisi pernyataan Ruhut yang memuji SBY sebagai sosok santun, tegas bersikap, dan sekali lagi, negarawan. Di berita itu, Ruhut juga menyatakan, tidak akan meninggalkan Demokrat. “Sejak bergabung dengan Demokrat, saya berkomitmen tak akan meninggalkannya,” katanya. 

baca:
SBY Sudah Tidak Negarawan
Jokowi Biayai Boni Hargens
Surya Paloh Soal Ahok Mundur
Dukungan Golkar Terbelah

Tapi itu dulu. Kini, Ruhut mulai banyak menyebut Presiden Jokowi sebagai sosok negarawan. Dan kemarin, dia dengan terang menyebut SBY sudah bukan sosok negarawan lagi. “SBY kekanan-kananan,” kata Ruhut kepada Rimanews.

Pernyataan Ruhut itu disampaikan ketika diminta tanggapannya soal tuduhan Boni Hargens yang menyebut SBY sebagai aktor demo 4 November. Dalam sebuah diskusi, Jumat pekan lalu, Boni menyatakan, SBY berada di balik aksi demo yang melibatkan umat Islam yang marah karena pernyataan Ahok soal Al Maidah. Boni juga menuding, aksi demo dibiayai uang hasil korupsi SBY selama 10 tahun berkuasa.

Menurut Ruhut, semua tuhuhan Boni mestinya dibela oleh orang-orang Demokrat yang disebutnya sebagai para pembisik SBY. Dia mengaku, sudah cukup membela SBY selama 10 tahun. “Kalau aku, kutiup terus (si Boni) lalu kusikat,” katanya .

Sehari sebelum Ruhut menyarankan orang-orang Demokrat membela SBY, sejumlah kader Demokrat sudah bersuara menyikapi tuduhan Boni, tapi tidak ada yang secara eksplisit membela SBY. Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Didi Irawadi Syamsuddin, hanya menyebut tuduhan Boni melecehkan umat Islam. Sementara Roy Suryo, mempersilakan publik menilai tuduhan Boni, karena menurutnya, semua orang tahu tahu kualitas Boni.

Hanya Benny K. Harman yang lantang menuding Boni dibiayai oleh Jokowi. "Kenapa presiden membiarkan orang seperti Boni bergentayangan?" kata Benny.

Ruhut memang kontroversial. Dia terang-terangan menunjukkan dukungannya untuk pasangan Ahok-Djarot di Pilkada DKI meskipun partainya mencalonkan Agus Harimurti Yudhoyono sebagai calon gubernur. “Siapa yang mau negur? SBY sama gue sayang. Syarif Hasan, Roy Suryo, memang gue pikirin mereka. Pak SBY sayang sama aku, aku juga sayang sama pak SBY. Jadi kita ini baku sayang," ujar Ruhut.

Dengan semua pernyataan Ruhut yang menanggapi pernyataan Boni, lalu merembet kepada SBY yang dinilainya sudah bukan lagi sosok negarawan, mengingatkan orang pada perseteruan Ruhut dan Boni beberapa tahun silam. Ruhut pernah marah kepada Boni saat keduanya berbicara di acara sebuah diskusi di sebuah stasiun televisi. Di acara itu, keduanya memang sengit terlibat adu mulut.

Menurut Ruhut, dia menyerang Boni, karena Boni menuduh SBY sebagai presiden gagal dan tidak becus bekerja selama 9 tahun berkuasa. Dia juga menyatakan tidak akan berdamai dengan Boni. 

Buntutnya, Ruhut dilaporkan ke Badan Kehormatan DPR menyusul pernyataannya ke Boni yang dianggap rasis. Boni saat itu menyatakan, dengan ucapan Ruhut, Partai Demokrat adalah partai rasis. Dia juga menyerukan agar Demokrat tidak diikutkan dalam Pemilu 2014.

Kini, Ruhut dan Boni berada di satu “kubu” secara tidak langsung. Dan benarlah, klise yang menyebutkan bahwa dalam politik tidak ada kawan dan lawan yang abadi.

Terbaru
Politik
Berita Terkait
17 November 2018 | 14:25
Pertiwi deklarasi dukung Jokowi-Ma'ruf