Politik

Berebut limpahan suara Agus

2.3K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:00
16 FEB 2017
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

ANALISIS – Mengacu ke hasil hitung cepat beberapa lembaga survei, Agus hampir pasti tersingkir dalam Pilkada DKI. Meskipun penghitungan resmi dari KPU baru dirilis 3 Maret, hasil riset tersebut biasanya tidak akan banyak bergeser.

Dengan raihan suara yang berkisar di 18 persen, harapan Agus masuk putaran dua—kita katakan saja—pupus. Tanyaan selanjutnya adalah ke mana suara Agus kelak akan beralih untuk putaran kedua.

Keyakinan Pilkada DKI bakal dua putaran karena hitung cepat menempatkan pasangan pemenang hanya di kisaran 42 persen—ini pun biasanya tidak banyak meleset dari data resmi yang nantinya dirilis secara resmi oleh KPUD.

Pada hasil survei yang dilakukan Litbang Kompas pada pada kurun 28 Januari-4 Februari 2017, elektabilitas Agus-Sylvi anjlok karena para pendukung beralih ke pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Hasil penelitian mengungkapkan terdapat sekitar 25 persen pendukung Agus-Sylvi yang mengalihkan dukungannya kepada pasangan Anies-Sandi, dan hanya 9 persen yang beralih ke Ahok-Djarot, sedangkan 4 persen berubah menjadi pemilih bimbang.

Agus-Sylvi hanya menyisakan 62 persen pendukung setia yang bertahan sejak Desember 2016 memilih pasangan ini. Maka, wajar jika saat pencoblosan kemarin suara Agus hanya 2/3 dari survei di bulan Desember yang saat itu menempatkan Agus sebagai jawara dengan perolehan sekitar 31%.

Berangkat dari riset tersebut, Anies tetap berpeluang merebut mayoritas limpahan pendukung Agus dengan probabilitas kurang lebih 65%, sedangkan Ahok hanya 23%. Dalam sejumlah hitung cepat, Ahok hanya unggul sekitar 2 %. Jika hitung-hitungan ini tak bergeser, Anies lebih memiliki kans untuk menyingkirkan Ahok dari kursi DKI 1.

Oleh karena itu, hanya skandal besar yang dapat dimainkan untuk membendung Anies-Sandi. Tak bisa dipungkiri bahwa elektabilitas Agus rontok karena serangan bertubi-tubi lewat isu korupsi Sylviana dan penggorengan kasus yang melibatkan SBY, seperti penyadapan hingga ocehan Antasari.

Maka, tidak perlu heran jika pada putaran kedua, kubu Ahok kemungkinan akan memainkan pola serupa. Yang bisa dimainkan kubu Ahok adalah menggoreng isu bahwa Anies-Sandi dibeking oleh Islam garis keras. Yang bakal paling mempan dengan isu ini adalah basis massa NU, yang merupakan ormas Islam mayoritas. Permainan ini tampak licik dan menjijikkan tapi dalam politik apa pun sangat mungkin dilakukan.

Seperti diketahui, partai pendukung Anies-Sandi adalah Gerindra dan PKS. Bagi sebagian besar Nahdliyin, PKS dinilai sebagai lawan ideologi keislaman. Jika isu ini berhasil, warga NU kemungkinan golput, atau memilih Ahok. Pasalnya, warga NU biasanya antipati terhadap hal-hal berbau Masyumi (direpresentasikan PKS) dan lebih condong ke kelompok nasionalis semodel PDIP—hal ini memiliki basis sejarah keterlibatan NU dalam Nasakom di era Soekarno.

Menghadapi ini, kubu Anies harus melakukan konsolidasi sesegera mungkin. Di era saat ini, kecepatan selalu menjadi bagian dari strategi. Apabila terlambat, PDIP bisa segera menarik PKB (dengan basis massa NU), misalnya, untuk dijadikan sekutu.

Jika gagal menarik partai seperti PKB, kubu Ahok masih bisa melakukan pendekatan secara personal ke tokoh-tokoh NU, sebagian anggota timses Ahok adalah anak-anak muda NU seperti pasangan suami istri Guntur Romli dan Nong Darol Mahmada. Jika ini terjadi, kemenangan Ahok bakal sulit dibendung.

Terbaru
25 Juli 2017 | 15:02
Impian Yusril untuk PBB di 2019
22 Juli 2017 | 06:01
Golkar panen tersangka korupsi
Politik