Politik

Surat Miryam buat Bambang Lega

3.6K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
11:42
09 JUN 2017
Reporter
Zul Sikumbang
Sumber
Rimanews

Rimanews - Ketua Komisi III DPR RI, Bambang Soesatyo merasa lega karena ada pengakuan dari  tersangka pemberi keterangan palsu Miryam S Haryani dengan materai yang dibacakan dalam rapat Pansus Hak Angket KPK kemarin.

Dalam rapat pansus Hak Angket tersebut, anggota Komisi III DPR RI, Masinton Pasaribu membacakan surat pernyataan Miryam, yang menjadi tersangka dalam skandal e-KTP.

"Masuknya surat tulisan tangan pernyataan Miryam bermaterai ke Pansus "Hak Angket Pelaksanaan Tugas KPK" kemarin sedikit banyak mulai membuka tabir bahwa sesungguhnya tidak ada anggota komisi III DPR yang menekan dan mengancam dirinya agar mencabut BAP kesaksiannya di pengadilan pada tanggal 23 maret 2017 dan 30 maret 2017 lalu. Sebagaimana disampaikan salah seorang penyidik KPK di bawah sumpah di persidangan," kata Bambang Soesatyo di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (9/6).

Dirinya dari awal sangat menyesalkan pernyataan prematur yang menyebut ada sejumlah anggota Komisi III DPR menekan dan mengancam Miryam tersebut hanya berdasarkan pengakuan Miryam tanpa tabayun ke para pihak yang disebutkan itu.

"Nah, sekarang Miryam telah menyampaikan bantahannya kepada Pansus Hak Angket KPK. Tinggal sekarang penyidik KPK membuktikan pernyataannya di pengadilan yang mengutip pengakuan Miryam, dan pembuktian itu sebenarnya tidak sulit. Bukankah setiap pemeriksaan baik kepada saksi maupun tersangka sesuai SOP KPK selalu di rekam? baik suara maupun gambar dan semua tertuang dalam BAP yang tentu saja diparaf halaman demi halaman dan halaman terakhirnya ditandatangi oleh terperiksa," kata Bambang.

Ia menyebutkan, kalau ternyata penyidik bisa menunjukan bukti dengan memperdengarkan sebagian rekaman yang terkait pernyataan Miryam yang menyebut sejumlah nama tersebut, dia dan mereka yang namanya disebut secara serampangan tersebut akan melaporkan Miryam ke Mabes Polri karena melakukan fitnah dan menuduh tanpa bukti.

"Bagaimana bisa dia menyatakan hal tersebut, sementara saya pribadi tidak tahu nomor kontak Miryam dan selama bertahun-tahun di DPR tidak pernah bertemu dengan yang bersangkutan apalagi berkomunikasi. Bagaimana bisa tiba-tiba dituduh menekan dan mengancam?" ujar politisi Golkar itu.

Namun, sebaliknya, kalau penyidik KPK ternyata tidak bisa membuktikan dengan memutar secara terbatas rekaman pemeriksaan yang terkait dengan penyebutan sejumlah nama oleh  Miryam, Bambang menyesalkan bahwa hal itu disampaikan penyidik KPK di pengadilan di bawah sumpah.

"Dan untuk itu kami berharap Pansus Hak Angket Pelaksanaan Tugas KPK yang baru saja terbentuk mampu membuat persoalan ini terang menderang. Siapa mengaku apa dan siapa mengarang apa," pungkas Bambang Soesatyo.

Pada sidang dugaan korupsi KTP-E pada 30 Maret 2017, penyidik KPK yang menangani kasus tersebut yaitu Novel Baswedan mengatakan bahwa Miryam ditekan oleh sejumlah anggota Komisi III untuk tidak mengakui fakta-fakta menerima dan membagikan uang dalam penganggaran KTP-E.

Nama-nama anggota Komisi III itu menurut Novel adalah Ketua Komisi III dari fraksi Golkar Bambang Soesatyo, Wakil Ketua Komisi III dari fraksi Gerindra Desmond Junaidi Mahesa, anggota Komisi III dari Fraksi Partai Hanura, Sarifuddin Suding, anggota Komisi III dari Fraksi PDI-Perjuangan Masinton Pasaribu dan satu orang lagi yang Novel lupa namanya.

Politik