Politik

Boni Hargens kembali menabung aib

11K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:01
12 JUL 2017
Dok : Boni Hargens
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Penulis Inggris Deborah Bull (53) mengatakan bahwa 80% apa yang kita pahami dalam sebuah percakapan terbaca dari bahasa tubuh, bukan kosakata. Jadi ingatlah bahwa setiap saat kita bicara dalam dua bahasa, yakni bahasa lisan dan bahasa tubuh. “Tubuh tak pernah bohong,” kata koreografer kenamaan Martha Graham (1894-1991).

Bicara tentang bahasa tubuh, dua hari ini, jagat media digegerkan dengan bahasa tubuh Boni Hargens yang mirip pecandu sabu-sabu. Boni adalah akademisi UI yang kemudian jadi tim sukses Jokowi pada Pilpres 2014. Dia menerima berkah menjadi komisaris Kantor Berita Nasional (KBN) Antara sejak 26 Januari 2016. Jabatan ini adalah ganjaran bagi perannya turut memberikan ide dan kontribusi lain bagi kemenangan Jokowi.

Sebelum menjadi pejabat dengan gaji pokok puluhan juta rupiah itu, Boni sering tampil di media sebagai pengamat politik dengan analisis yang cukup berani, dan masih berlanjut hingga kini. Sayang, di kemudian hari, keberaniannya ini dinilai banyak orang hanya dimanfaatkan untuk mendukung posisi politiknya saat ini.

Ketika tengah menjelaskan masalah tentang Perppu ormas di sebuah stasiun TV swasta  nasional, Boni terlihat tidak fokus dalam berbicara dan beberapa kali mengusap hidung dan memejamkan mata. Karena gestur tersebut, netizen heboh dengan menuduhnya sedang sakau usai menghisap sabu. Tentu saja tudingan ini dibantah Boni mentah-mentah.

Sebelum kasus ini, dua kali Boni melakukan pernyataan blunder saat panas-panasnya Pilkada DKI. Pertama adalah menohok Ketua Umum MUI KH. Ma’ruf Amin. Pada 22 November 2016, Boni mengunggah foto lama pernikahan Ketua MUI KH Ma'ruf Amin di Twitter. Tak hanya itu, untuk mendukung satir yang ingin disampaikan, dia menulis, "Kami ucapkan selamat kepada Bapak Wakil Ketua MUI Ma'ruf Amin yang berusia 73 tahun. Hari ini menikahi wanita cantik Wury Estu Handayani, yang berusia 30 tahunan semoga kedua mempelai berbahagia dan langgeng sampai akhir hayat. Amin Yra."

Kontan, postingan Beni tersebut mendapat respons negatif dari sejumlah tokoh, termasuk yang mengenal Boni sendiri. Mereka secara umum menyayangkan cara Beni menyeret-nyeret privasi Ma’ruf. Gambar tersebut dinilai secara sengaja diunggah Beni untuk memojokkan kiai yang juga Ketua PBNU itu. Ma’ruf adalah salah satu ulama yang menilai ucapan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) adalah penistaan agama.

Akhirnya, Beni menghapusnya setelah foto yang dibuat pada 2014 itu dua jam bertengger di akun Twitternya. Beni mengaku dirinya mengunggah foto dan tulisan tersebut karena kesalahan teknis; dia salah pencet. Boni pun meminta maaf dan mengaku akan bersilaturahmi ke Ma’ruf sekembalinya dari luar negeri.

Foto yang diunggah pria asal Flores itu adalah foto pernikahan Ma’ruf dengan seorang janda asal Depok, Wuri Estu Handayani. Keduanya menikah di Masjid Sunda Kelapa Jakarta pada 31 Mei 2014. Saat itu, Ma’ruf berusia 70 tahun dan Wuri 39 tahun. Ma’ruf berstatus duda setelah istri pertamanya meninggal.

Pernyataan nista Boni yang kedua adalah soal analogi kemenangan Anies dengan pil penenang anak super autis. Sebagai akademisi, seharusnya Boni tahu bahwa penderita autis (dan sindrom apa pun) dilarang digunakan sebagai bahan olok-olok. Boni dalam cuitan yang kontroversial itu menyamakan kemenangan Anies sebagai penenang sementara gejolak massa, tetapi tidak akan mengobati luka secara permanen laiknya pil penenang pada anak autis.

“Kemenangan ini spt pil yg diberikan pada anak super autis. Biar adem aja. Tapi tak akn menyembuhkn autisme dlm sekejap.#Salam Jakarta baru#,” cuit Boni di akun Twitter, yang diviralkan warga internet. Boni pun didesak mundur sebagai komisaris Lembaga Kantor Berita Nasional Antara, dengan gaji puluhan juta rupiah per bulan itu yang tentu saja berlipat-lipat dari pendapatan profesi sebelumnya sebagai seorang dosen.

Selain itu, akibat terlalu sering menyudutkan Ketua Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Boni harus berhadapan dengan Luhut Situmpul. Luhut kemudian membongkar aib Boni di media. Luhut menyebut Boni Hargens sebagai penipu tak tahu diri yang memanfaatkan uang bea siswa untuk mabuk-mabukan.

Penipuan yang dimaksud Luhut adalah tuduhan memalsukan tanda tangan seorang profesor untuk keperluan beasiswa. Mendapat beasiswa KAAD di Jerman, Boni dinilai tidak bertanggung jawab terhadap kuliahnya dan malah sering pesta miras.

BNN seharusnya segera periksa Boni

Terkait tudingan pemakaian narkoba oleh Boni, seharusnya BNN turun tangan. Hal ini lantaran Boni menerima gaji dari kas negara melalaui jabatannya sebagai komisaris Antara. Ditambah lagi, Boni adalah pendidik di kampus negeri.

Apabila terbukti menyalahgunakan narkoba, Boni wajib langsung dipecat dan dirposes hukum.

Sebelumnya, desakan yang meminta Boni untuk dilengserkan dari komisaris kantor berita Antara sempat mengemuka saat cuitan yang menghina anak autis tersebut muncul. Boni dinilai hidup dari pajak rakyat, tetapi perilakunya tak dapat diteladani.

KATA KUNCI : , ,
Terbaru
Politik