Sepakbola

Mengungkap sejarah penyelengaraan Piala Konfederasi

9.6K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
07:57
17 JUN 2017
Reporter
Andika Pratama
Sumber
Rimanews

Rimanews - Piala Konfederasi 2017 akan dimulai pada Sabtu (17/6/2017). Turnamen sepak bola antar negara yang sekaligus menjadi pemanasan jelang Piala Dunia akan bergulir mulai 17 Juni hinhga 2 Juli.

Piala Konfederasi merupakan hajatan FIFA yang mempertemukan para jawaran dari enam konfederasi antara lain UEFA (Eropa), CONMEBOL (Amerika Selatan), CONCACAF (Amerika Utara, tengah, dan Kepulauan Karibia), CAF (Afrika), AFC (Asia), OFC (Oseania).

Kejuaraan yang pertama kali dihelat pada 1992 bernama King Fahd Cup, Saat itu, turnamen ini diselenggarakan di Arab Saudi. Namun, pamor dari Piala Konfederasi masih kalah dibandingkan Piala Dunia. Beberapa tim menyebut bahwa ajang ini sebagai pemanasan dan melihat persiapan tuan rumah Piala Dunia.

Selain itu, beberapa tim tak menurunkan skuat terbaiknya. Contohnya Jerman, pelatij Joachim Loew hanya memanggil pemain-pemain muda untuk Piala Konfederasi tahun ini. Meskipun demikian, jawara Piala Dunia 2014 tetap menjadi unggulan di turnamen empat tahunan ini.

Piala Konfederasi 2017 menjadi penyelenggaraan ke-10 dan diselenggarakan di Rusia yang menjadi host Piala Dunia 2018. Ada delapan tim yang ikut berpartisipasi pada ajang ini yakni tuan rumah Rusia, Jerman berstatus jawara Piala Dunia 2014, Portugal juara Piala Eropa 2016, juara Piala Asia 2015 Australia, Chile juara Copa America 2015, Meksiko juara Piala Emas CONCACAF 2015, Selandia Baru Juara Piala Oseania 2016, dan Kamerun Juara Piala Afrika 2017.

Awal mula Piala Konfederasi tercipta pada 1980, saat itu bernama Mundialito mempertemukan lima tim juara dunia. Presiden UEFA Artemio Franchi berinisiatif untuk menggelar Trofi Artemio Franchi yang mempertemukan juara Eropa dengan Amerika Selatan pada 1985 dan 1993.

Ide untuk mempertemukan tim-tim terbaik dunia mulai dikembangkan. Pada 1992 digelarlah turnamen antartim dunia di Arab Piala Raja Fahd. Argentina berhasil keluar sebagai juara. Tiga tahun kemudian, format turnamen ini berubah.

FIFA pun mengambil alih penyelenggaraan turnamen ini dan merubah nama menjadi Piala Konfederasi sejak 1997. Brazil menjadi juara usai mengalahkan Australia 6-0 di final.

Dua tahun kemudian, giliran Meksiko yang tampil sebagai kampiun setelah menang 4-3 atas Brazil di partai puncak. Pada 2001, FIFA menjadi Piala Konfederasi menjadi ajang pemanasan sebelum Piala Dunia.

Aksi boikot dan kematian Marc Vivien Foe

Penyelenggaraan Piala Konfederasi bukan tanpac Vivien Foe hambatan. Pemilihan waktu membuat sejumlah tim memilih untuk tidak ikut berpartisipasi. Fisik pemain dan jadwal padat menjadi alasan tim-tim asal Eropa urung ikut ajang ini.

Jerman pernah menolak ikut berpartisipasi pada Piala Konfederasi 1997 dan 2003. Prancis juga memboikot ajang ini tahun 1999 dengan alasan yang sama. Akhirnya, FIFA mengubah waktu Piala Konfederasi menjadi empat tahun sekali.

Kejadian memilukan pernah terjadi di Piala Konfederasi 2003. Saat itu, gelandang Kamerun, Marc Vivien Foe, kolaps di tengah lapangan ketika bertanding melawan Kolombia. Kematian pemain Manchester City itu mencoreng muka FIFA. Foe dinyatakan tewas ketika perjalanan ke rumah sakit.

Kamerun lolos ke final dan menghadapi Prancis. Kedua tim sama-sama merasakan duka yang mendalam setelah Vivien Foe meninggal dunia. Prancis yang akhirnya keluar sebagai juara mengajak para pemain Kamerun ke podium untuk merayakan kemenangan sekaligus mengenang rekannya.

Kutukan juara Piala Konfederasi

Gelaran Piala Konfederasi juga menghadirkan sejumlah mitos yang berkembang. Mitos yang paling mutakhir adalah juara Piala Konfederasi tidak akan berjaya di Piala Dunia.

Mitos itu bukan isapan jempol belaka. Brazil yang menjuarai Piala Konfederasi 1997 gagal mengangkat trofi Piala Dunia 1998 usai dikalahkan Prancis dengan skor 3-0 di laga final.

Prancis juga pernah mendapatkan kutukan. Les Blues yang menjuarai Piala Konfederasi 2001 gagal total di Piala Dunia 2002. Prancis tak mampu menembus babak penyisihan grup, bahkan mereka dipecundangi Senegal di pertandingan pertama.

Hal yang sama juga terjadi di Piala Konfederasi 2005 (Jerman) dan Afrika Selatan (2009). Brazil yang memenangkan dua edisi ini tidak mampu tampil baik di Piala Dunia 2006 dan 2010.

Pada 2013, Brazil kembali menjadi juara Piala Konfederasi. Namun, ketika berlaga di Piala Dunia 2014, Selecao babak belur. Berstatus tuan rumah, Nyemar dan kawan-kawan hanya menembus partai semifinal. Ironisnya, Brazil dikalahkan Jerman dengan telak 1-7. Kekalahan ini membuat Dunga mengundurkan diri.

Kita tunggu saja, apakah mitos ini akan tetap berlanjut atau berhenti di Rusia?

Sepakbola