Software

Ponsel ilegal disisipi alat untuk mencuri data nasabah

5.4K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
23:33
29 MAR 2017
Dok: Pratama Persadha chairman Cissrec
Reporter
Ahmad
Sumber
Rimanews

Rimanews - Kejahatan yang menyasar nasabah perbankan semakin marak di seluruh dunia, salah satu caranya adalah mencuri data nasabah lewat ponsel yang terinfeksi malware. 

Malware bisa mengambil data bahkan memodifikasi proses finansial di ponsel pintar, baik lewat SMS banking, mobile banking dan internet banking.

Kemungkinan malware menyerang ponsel pintar bertambah besar di tanah air karena maraknya peredaran ponsel pintar Black Market, khususnya android. Hal ini terjadi karena beberapa tipe ponsel laris tidak masuk ke tanah air, terbentur oleh regulasi TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) yang dikeluarkan oleh Kementrian Perindustrian.

Pakar keamanan cyber Pratama Persadha menilai banyaknya ponsel pintar 4G black market sebenarnya sangat membahayakan konsumen, meski dijual dengan harga relatif lebih murah. Terutama terkait keamanan pada operating systemnya, khususnya android yang punya kemungkinan telah dimodifikasi pihak ketiga.

"Kita tahu bersama android ini sistem yang terbuka. Jadi siapapun sebenarnya bisa memodifikasi OS bawaan dengan berbagai macam tujuan. Bila ada malware yang disisipkan ini sangat berbahaya, karena jelas akan merugikan konsumen tanah air," terangnya.

Pratama menambahkan ponsel pintar BM terutama dengan OS Android seharusnya membawa OS Stock bukan OS distributor atau pihak ketiga. OS Stock adalah OS android resmi bawaan dari produsen, sehingga bisa dibilang aman. Sedangkan OS distributor sering disebut dengan OS abal-abal, karena biasanya tidak stabil dan sering dituduh menyertakan malware untuk kepentingan iklan.

“Ponsel BM ini kalo kita lihat di pasaran banyak juga memakai OS abal-abal. Jelas ini memperbesar kemungkinan data kita dicuri. Apalagi bila kita melakukan transaksi keuangan lewat ponsel, besar kemungkinan data diambil dan proses transaksi diubah,” jelas Chairman lembaga riset keamanan cyber CISSReC (Communication and Information System Security Research Center) ini.

Selain itu keberadaan malware bawaan ini mengakibatkan adanya spam iklan, juga membuat baterai dan penggunaan data lebih boros. Namun menurut Pratama paling berbahaya adalah malware tersebut bisa mengumpulkan data pengguna, terutama aktivitas perbankan yang menggunakan SMS dan internet banking.

“Sebaiknya pemerintah tegas, karena selain membahayakan masyarakat Indonesia sebagai konsumen, ponsel BM ini juga membuat negara kehilangan pajak cukup besar,” jelas mantan pejabat Lembaga Sandi Negara ini.

Pria asal Cepu Jawa Tenah ini menilai penggunaan ponsel pintar BM dalam jumlah besar bisa ikut meningkatkan jumlah fraud dalam transaksi perbankan. Meski saat ini masih sangat kecil, namun sebaiknya pemerintah mulai memberikan perhatian lebih serius.

Terbaru
Software